Saya bisa katakan, saya adalah pejabat eksekutif pertama yang hadir dan menyatakan sikap membela korban dan rakyat dalam peristiwa-peristiwa seperti itu. Jujur, dalam sejarah Reformasi, hampir tak ada menteri pembantu presiden yang berani menyatakan sikapnya secara lantang demi keadilan warga negara.
Kembali ke forum di Hambalang tadi. Setidaknya, publik makin paham seluruh pikiran dan perasaan Prabowo Subianto. Dari dekat, saya menyelaminya. Sosok ini menyayangi rakyat, bangsa, dan negara dari lubuk hati yang paling dalam.
Jawaban-jawabannya terhadap berbagai pertanyaan membuktikan: ia adalah pemimpin egaliter dalam sejarah Republik ini. Sikap yang justru berbanding terbalik dengan gaya kepemimpinan selama hampir 80 tahun, yang kerap menempatkan pemimpin bagai titisan dewa dengan 'Divine Rights of The King'.
Hari ini, Prabowo menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang demokratis, menjunjung humanisme. Rakyat Indonesia melihat dan menerima ketulusannya.
Lantas, sudahlah. Stop aksi anarkis, provokasi, adu domba. Indonesia adalah negara demokrasi prominen. Silakan kritik untuk perbaikan kerja pemerintah, tapi jangan bawa niat jahat misalnya, ingin mengganti pemerintahan sebelum 2029.
Izinkan saya bercerita sedikit. Tahun 1999, saat reformasi, saya adalah aktivis di SMID, PRD, LMND, juga Ketua Mahasiswa Papua Internasional. Jalan menuju reformasi 1999 itu panjang. Kami sudah bekerja sejak 1994, bergeliat lagi di 1996, memuncak pada 1997.
Gerakan masif 1998, di mana saya sendiri yang membakar Gejayan 98 yang kini terkenal dengan jargon "Gejayan Memanggil" baru berujung pada reformasi di 1999. Tak ada perubahan rezim yang terjadi seperti kilat.
Lagipula, TNI dan Polri saat ini sangat kompak. Dunia internasional pun melihat Indonesia aktif berkontribusi menciptakan perdamaian. Mereka memandang Prabowo sebagai figur penting dari negara netral, yang dibutuhkan para pemimpin dunia.
Saya saksikan sendiri Sekjen PBB Gutierrez memintanya ikut andil menjaga perdamaian dunia dan kawasan.
Dari sini saya simpulkan, situasinya tidak memungkinkan untuk sebuah perubahan rezim. Target jangka pendek seperti yang RG sampaikan, ya, mustahil tercapai.
Mungkin, di momentum Idulfitri yang baru kita lewati ini, lebih baik kita bersatu. Bahu-membahu membangun bangsa. Nanti, waktunya "bertarung" akan tiba di 2029. Saatnya kita berkompetisi secara fair dengan siapapun.
Semua putra-putri bangsa punya kesempatan yang sama untuk maju dan bersaing di tahun itu. Merdeka Indonesia! Damai, adil, dan makmur, dalam semangat hari yang fitri.
Artikel Terkait
Ular Piton 8 Meter Telan Kambing Hamil di Kendari
Baznas Jelaskan Tata Cara dan Niat Puasa Syawal serta Qadha Ramadan
Wakil Ketua MPR Dukung Arahan Presiden Prabowo Percepat Transisi Energi
Ketegangan Timur Tengah Picu Kerugian Rp900 Triliun dan Ancaman Kenaikan Harga Tiket Global