Ketegangan Timur Tengah Picu Kerugian Rp900 Triliun dan Ancaman Kenaikan Harga Tiket Global

- Minggu, 22 Maret 2026 | 15:30 WIB
Ketegangan Timur Tengah Picu Kerugian Rp900 Triliun dan Ancaman Kenaikan Harga Tiket Global

Jakarta - Industri penerbangan global mulai merasakan getahnya. Ketegangan di Timur Tengah, yang memanas pasca serangan AS dan Israel ke Iran, ternyata tak cuma soal politik. Kerugian finansial yang harus ditanggung puluhan maskapai ternyata fantastis: sekitar 53 miliar dolar AS, atau nyaris Rp900 triliun! Angka itu berdasarkan kalkulasi harian Financial Times.

Ya, hampir Rp900 triliun menguap begitu saja. Bukan jumlah main-main.

Dihimpit Masalah Ganda: Minyak Mahal dan Operasi Tersendat

Di sisi lain, para eksekutif maskapai sudah lama mengeluhkan ancaman ganda ini. Harga minyak yang melambung tinggi jadi beban utama. Tapi itu belum semuanya. Operasional di bandara-bandara kawasan Teluk juga kacau balau, ditambah lagi dengan permintaan tiket yang cenderung menurun secara global. Situasi yang benar-benar memeras keringat.

Menurut sejumlah analis, tekanan ini datang dari segala penjuru. Maskapai seolah terjepit.

Penumpang Juga Kena Getahnya

Lalu, bagaimana dengan kita, para penumpang? Financial Times memprediksi, dalam hitungan bulan ke depan, harga tiket pesawat berpotensi melonjak drastis. Yang menarik, kenaikan ini bisa terjadi bahkan untuk rute-rute yang sama sekali tidak terkait dengan Timur Tengah. Kok bisa?

Logikanya sederhana: maskapai berusaha mati-matian menjaga pemasukan mereka. Ketika biaya operasional membengkak di satu sektor, kompensasinya seringkali dibebankan secara lebih merata. Jadi, jangan kaget kalau tiket liburan ke Eropa atau Amerika nanti ikut-ikutan naik. Mereka berusaha bertahan, dan kita yang mungkin harus menanggung sebagian bebannya.

Semua ini berawal dari insiden akhir Februari lalu. Serangan gabungan AS dan Israel mengguncang Iran, termasuk Teheran, dan meninggalkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa. Iran pun tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai titik di Timur Tengah.

Awalnya, AS dan Israel beralasan serangan itu untuk membendung ancaman program nuklir Iran. Namun belakangan, banyak yang melihat motif sebenarnya lebih dalam: keinginan untuk mendorong pergantian rezim di negara tersebut. Konflik yang rumit, dengan konsekuensi yang merambat jauh melampaui batas geografinya.

Dampaknya kini jelas terasa. Dari ruang rapat dewan direktur maskapai hingga ke kantong calon penumpang. Ketegangan geopolitik ini telah berubah menjadi badai sempurna bagi dunia penerbangan.

(ANN)

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar