20 Hal yang Perlu Anda Pahami Soal Demo di Iran
Percaya atau tidak, beginilah faktanya.
Pertama, soal kabar "korban jiwa massal" di kalangan demonstran. Jangan langsung telan mentah-mentat. Tuduhan itu datang dari sebuah kelompok bernama Center for Human Rights in Iran. Tapi jangan terkecoh namanya. Kantor mereka ternyata bukan di Iran, melainkan di New York, Amerika Serikat.
Lalu, apakah ini organisasi Iran? Sama sekali bukan. Mereka didanai oleh National Endowment for Democracy (NED), yang punya hubungan erat dengan CIA di Washington DC. Badan-badan macam ini memang spesialisasi menyebar disinformasi.
Yang lebih menarik lagi, siapa yang menjalankannya? Ketuanya adalah Minky Worden, seorang warga Amerika. Dia ini bukan wajah baru. Selama bertahun-tahun, dia aktif dalam kampanye anti-Cina, bahkan pernah berusaha mengubah nama Olimpiade Beijing menjadi "Olimpiade Genosida". Usahanya, tentu saja, gagal.
Jaringannya luas. Worden diketahui bekerja sama dengan gerakan "pro-demokrasi" Hong Kong yang juga dapat suntikan dana dari NED. Suaminya sendiri duduk di dewan direksi Apple Daily dan punya kontrak dengan Pentagon. Memang, operasi perubahan rezim ala AS ini sering kali terasa sangat nepotis.
Di sisi lain, ada lagi sumber kabar yang kerap mengangkat isu protes besar dan jumlah kematian fantastis di Iran: Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA). Nah, ini pun bukan media independen. Mereka juga outlet disinformasi yang dibiayai NED dan berbasis di AS.
Memang, protes terhadap pemerintah Iran itu ada. Tapi skalanya tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Kelompok-kelompok Barat, termasuk media yang didanai NED dan siaran berbahasa Persia Voice of America, sudah lama membina kelompok anti-pemerintah. Namun begitu, serangan Trump dan perilaku Israel di Gaza justru membuat banyak warga Iran kurang bersimpati pada gerakan anti-pemerintah. Poin ini penting.
Tokoh paling vokal yang sering dikutip media Barat sebagai "pemimpin protes" adalah Masih Alinejad. Perempuan ini digaji NED bertahun-tahun dan kini bekerja untuk Badan Media Global AS.
Dia tinggal di Iran? Tidak. Dia menetap di Amerika Serikat.
Latar belakangnya? Propaganda. Pekerjaannya ya menyebarkan narasi pro-AS dan anti-Iran lewat berbagai media. Anehnya, dia justru sering dikutip seolah-olah suaranya mewakili rakyat Iran yang sebenarnya.
Menurut laporan, antara 2015 hingga 2022 saja, Alinejad menerima dana sekitar US$628.000 dari NED dan kelompok terkait. Dan ya, juru kampanye perubahan rezim ini sempat dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian.
Ingat kasus Mahsa Jina Amini? Perempuan yang konon dipukuli hingga tewas oleh polisi karena salah mengenakan hijab. Nah, Alinejad-lah yang pertama menyebarkan kisah itu. Namun, video keamanan yang beredar justru membantahnya. Rekaman menunjukkan tidak ada seorang pun di dekat Amini saat ia pingsan akibat masalah medis.
Ada satu dokumen menarik dari Brookings tahun 2009 berjudul "Which Path to Persia?". Makalah itu menguraikan dengan detail bagaimana AS bisa mengendalikan Iran: dengan menciptakan kerumunan massa untuk menyerang fasilitas pemerintah, lalu media bisa melabelinya sebagai "pemberontakan rakyat". Atau, dengan memicu perpecahan dan menempatkan pemimpin boneka. Rencana semacam ini sudah berkali-kali dipraktikkan di berbagai negara.
Lalu, mengapa propaganda AS terhadap Iran sering berkutat pada isu hak-hak perempuan? Pengalaman mereka di Afghanistan dan Pakistan menunjukkan, isu ini lebih mudah memicu kemarahan audiens Barat dibandingkan jargon-jargon klasik seperti demokrasi, kebebasan, atau HAM.
Apakah aturan berhijab di Iran sesempit dan seketat yang digambarkan? Tidak juga. Pada umumnya, perempuan Iran memang berpakaian sopan sesuai gaya Islami, tapi suasana di lapangan jauh lebih santai dan toleran. Coba bandingkan dengan kode berpakaian di Indonesia atau Malaysia. Kebanyakan orang berpakaian religius, tapi nuansanya tetap masuk akal.
Bagaimana dengan kisah-kisah kekejaman terhadap perempuan? Banyak yang dibuat-buat dan disebarkan oleh sumber-sumber AS dan Israel. AS memang punya "departemen fabrikasi kekejaman" lihat saja penelitian AB Abram untuk contoh-contohnya di berbagai belahan dunia.
Ada studi akademis yang seolah "membuktikan" bahwa mayoritas warga Iran ingin pemerintahan yang bersekutu dengan AS. Studi itu muncul di The Journal of Democracy. Tapi publikasi itu bukan jurnal akademis sungguhan. Itu adalah majalah milik NED.
Agen-agen NED sudah bertahun-tahun menyusup ke Iran. Mereka mendanai akademisi dan jurnalis untuk membangun pengaruh di kelompok pendidikan, sipil, dan media. Pola yang sama diterapkan di Hong Kong dan banyak negara lain.
Kelompok lain yang sering dikutip adalah Foundation for Democracy in Iran. Lagi-lagi, ini bukan organisasi Iran. Mereka didanai NED dan direktur eksekutifnya adalah aktivis Amerika, Kenneth R. Timmerman.
Warga Iran itu cerdas. Mereka tahu soal NED dan bahkan memberinya julukan: "Musuh Demokrasi Nasional".
Terakhir, laporan dari media arus utama Barat seperti BBC, Guardian, atau Reuters perlu disikapi dengan sangat skeptis. Mereka punya rekam jejak panjang dalam meremehkan, atau lebih sering, menutupi sama sekali proses manipulasi Barat untuk menciptakan perubahan rezim.
Jika Anda benar-benar mendukung rakyat Iran, Anda perlu tahu semua ini. Dunia harus berdiri bersama Iran dan menyampaikan pesan yang jelas kepada AS: Cukup sudah.
Ditulis oleh:
Nury Vittachi
Terjemahan:
Danial Indrakusuma
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Cerah Berawan, Suhu Capai 35 Derajat Celsius
Sambal Makassar Mendadak Viral di Korea Usai Muncul di Kulkas Idol Girls Generation
Inter Milan Tundukkan Cagliari 3-0, Pertahankan Puncak Klasemen Serie A
Timnas Voli Putri Indonesia Masuk Grup Neraka di AVC Womens Cup 2026