Guru Besar UIN Palu: Idul Fitri 2026 Momentum Pas Asah Toleransi

- Minggu, 22 Maret 2026 | 11:45 WIB
Guru Besar UIN Palu: Idul Fitri 2026 Momentum Pas Asah Toleransi

Di Kota Palu, suasana Minggu yang tenang diselingi oleh suara Prof. Zainal Abidin yang berbicara tentang makna Idul Fitri mendatang. Guru Besar UIN Datokarama Palu itu menyebut, perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah atau 2026 nanti bukan sekadar hari kemenangan biasa. Momentum ini dinilainya sangat pas untuk mengasah toleransi antarumat beragama.

"Sekaligus memantapkan persatuan antarsesama manusia dalam kebhinekaan," ujar Prof. Zainal.

Baginya, membangun toleransi itu dimulai dari hal-hal sederhana. Dari lingkungan terdekat. Memperbaiki hubungan bertetangga, misalnya, dengan berbagi makanan penuh keikhlasan. Sikap jujur dalam pergaulan sehari-hari juga jadi fondasi penting.

"Secara universal, ini dianjurkan oleh ajaran agama-agama dunia. Nabi dan para sahabatnya sudah memberi contoh yang begitu agung dan indah," tegasnya.

Namun begitu, dia mengingatkan ada batas yang perlu disadari bersama. Hubungan antarumat beragama, menurutnya, berada di ranah sosial kemasyarakatan. Ia tak boleh masuk ke wilayah akidah yang menjadi garis batas setiap kepercayaan. Islam pun punya prinsip jelas dalam hal ini.

"Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Soal kepercayaan adalah urusan masing-masing dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan nanti," ucap Prof. Zainal, yang juga menjabat Ketua FKUB Sulawesi Tengah.

Maka, tugas kita semua adalah menjaga harmoni itu agar tetap hidup. Kerukunan harus ditumbuhkan di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Menebar kebajikan kepada sesama makhluk Tuhan itulah intinya.

Dia lalu menekankan, sikap saling menghormati sejatinya adalah cerminan Muslim sejati. Keberagaman dalam segala hal, menurutnya, adalah fakta yang tak terbantahkan. Bahkan, itu adalah sunnatullah.

"Bentuk kebhinekaan yang paling nyata terlihat pada pikiran, budaya, bahasa, ras, suku, hingga agama dan kecenderungan politik," tutur Rais Syuriah PBNU itu.

Di akhir pernyataannya, dia menyampaikan pesan yang terdengar seperti sebuah renungan. Biarlah perbedaan keyakinan itu ada. Biarlah setiap orang punya cara berdoanya sendiri. Biarlah Tuhan disebut dengan berbagai nama dan dilukiskan dalam beragam bentuk.

"Biarlah kemuliaan Tuhan dinyanyikan dalam semua bahasa, dalam segala lagu. Biarlah semua tumbuh subur," katanya.

Lalu dia menutup dengan kalimat yang dalam: "Karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan."

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar