Pernyataan terbaru Benjamin Netanyahu menuai badai kritik. Kali ini, Perdana Menteri Israel itu menyulut kontroversi dengan menyandingkan Yesus Kristus dan Genghis Khan dalam pidatonya tentang perang melawan Iran.
Pidato yang disiarkan televisi pada Kamis lalu itu langsung memicu gelombang kecaman. Netanyahu terlihat jelas menyampaikan pernyataan yang bagi banyak orang terdengar mengerikan.
"Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan," ujarnya tegas.
Ia lalu melanjutkan, "Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi."
Ucapan itu tentu saja bukan tanpa konteks. Semuanya bermula dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari. Saat itu, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gempuran drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Serangan balasan ini tak hanya menimbulkan korban dan kerusakan, tapi juga sempat mengacaukan pasar global dan lalu lintas penerbangan.
Di tengah situasi panas itu, pernyataan Netanyahu soal Yesus dan Genghis Khan dianggap sebagai langkah yang sangat tidak tepat. Menlu Iran, Abbas Araghchi, langsung menyerang balik. Menurutnya, ini adalah penghinaan yang luar biasa.
"Bagi seorang pria yang sangat bergantung pada niat baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka Netanyahu terhadap Yesus Kristus (PBUH) sangat luar biasa," tulis Araghchi di platform media sosial X, disertai video cuplikan pidato Netanyahu.
Reaksi keras dari Tehran itu bisa ditebak. Namun yang menarik, hujatan terhadap Netanyahu ternyata tak hanya datang dari pihak Iran. Banyak pengamat dan pihak lain juga ikut mengernyitkan dina, mempertanyakan strategi komunikasi dan narasi yang dibangun oleh pemimpin Israel tersebut di tengah konflik yang sudah sangat rumit ini.
Artikel Terkait
AHY Dorong Koridor Hijau Jadi Standar Baru Infrastruktur Nasional
Program Cek Kesehatan Gratis Capai 100 Juta Peserta, 663 Ribu Anak Terindikasi Hipertensi
CKG Pemerintah Capai 100 Juta Peserta, Skrining Temukan 663 Ribu Anak Alami Tekanan Darah Tinggi
Serangan Rusia Tewaskan 21 Warga Sipil di Ukraina Beberapa Jam Sebelum Gencatan Senjata yang Diusulkan Kyiv Mulai Berlaku