Idulfitri di Tengah Konflik: Khidmat di Mashhad, Larangan Salat di Al-Aqsa

- Minggu, 22 Maret 2026 | 01:45 WIB
Idulfitri di Tengah Konflik: Khidmat di Mashhad, Larangan Salat di Al-Aqsa

Langit Sabtu pagi di Mashhad cerah, tapi suasana di tanah Iran tak sesunyi biasanya. Dentuman perang masih menggema, namun puluhan ribu umat Muslim tetap membanjiri kota suci itu. Mereka bertekad merayakan Idulfitri 1447 Hijriah, meski di bawah bayang-bayang eskalasi konflik yang kian mencekam. Kompleks Suci Imam Reza dipadati jemaah, sebuah pemandangan khidmat di tengah level bahaya keamanan tertinggi.

Ketegangan sebenarnya sudah memuncak sejak akhir Februari lalu. Pemicunya, operasi militer gabungan AS dan Israel yang menyasar fasilitas strategis Iran. Balasannya tidak tanggung-tanggung: serangan balik Iran menghantam aset-aset kedua negara itu di kawasan. Bahkan gemuruh ledakannya konon terdengar sampai ke seberang Teluk.

Namun begitu, semangat untuk menunaikan salat Id tampaknya tak bisa dipadamkan. Ribuan orang memadati alun-alun dan area sekitar makam suci. Mereka saling berdesakan, tapi tetap khusyuk. Seolah ingin menunjukkan, bahwa di tengah segala ancaman, ada hal-hal yang tetap harus dijalani.

Di sisi lain, cerita yang sama sekali berbeda terlihat di Yerusalem. Nuansa duka dan kekesalan justru menyelimuti hari raya di sana. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, umat Muslim dilarang melaksanakan salat Id di dalam Masjid Al-Aqsa. Larangan ketat ini diberlakukan oleh pasukan Israel, sebagai bagian dari antisipasi menyusul memanasnya konflik dengan Iran.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar