Indonesia Siaga Karhutla, Refleksi 1998: Antara Faktor Alam, Kesalahan Manusia, dan Pelajaran Diplomasi

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:40 WIB
Indonesia Siaga Karhutla, Refleksi 1998: Antara Faktor Alam, Kesalahan Manusia, dan Pelajaran Diplomasi

Tapi yang muncul justru tekanan internasional dengan standar ganda. Dalam situasi seperti itu, keputusan Presiden RI kala itu untuk menyampaikan permintaan maaf kepada negara serumpun, lebih tepat dilihat sebagai langkah diplomatik yang tak terhindarkan.

Refleksi Kritis: Belajar dari Masa Lalu

Dari pengalaman pahit itu, setidaknya ada tiga pelajaran berharga untuk generasi sekarang dan mendatang.

Pertama, narasi adalah kekuasaan. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang mengendalikan persepsi global. Saat itu, Indonesia cenderung reaktif. Kita gagal membangun kontra-narasi yang kuat berbasis data ilmiah.

Kedua, waspadai bahaya simplifikasi. Menganggap kebakaran semata-mata "ulah manusia" dengan mengabaikan faktor iklim global, hanya akan mengorbankan kelompok masyarakat kecil yang sebenarnya paling rentan.

Ketiga, kedaulatan dalam diplomasi. Posisi tawar kita bisa melemah jika tidak hati-hati, dan itu membuka pintu untuk tekanan eksternal yang lebih besar. Dengan indikasi kemarau panjang seperti sekarang, kita harus belajar dari kesalahan lama. Jangan sampai terperosok ke lubang yang sama.

Lalu, langkah strategis apa yang diperlukan? Beberapa hal ini mungkin bisa jadi pertimbangan: membangun sistem peringatan dini berbasis iklim global, mengutamakan pendekatan preventif ketimbang represif, melindungi petani kecil dari kriminalisasi, menegakkan hukum yang bersih dari praktik rente, dan membangun diplomasi yang kokoh berbasis data serta kedaulatan narasi.

Penutup

Pada akhirnya, kebakaran hutan bukan cuma soal api yang membakar pepohonan. Ini adalah persoalan kebijakan yang kompleks, tentang keadilan, dan tentang mempertahankan kedaulatan. Pengalaman 1996-1998 mengajarkan bahwa negara harus jeli membedakan: mana fenomena alam, mana kesalahan manusia; mana upaya menegakkan keadilan, mana yang sekadar oportunisme; serta mana diplomasi yang elegan, mana yang bentuk lain dari penyerahan diri.

Jika pelajaran ini diabaikan, maka setiap musim kemarau bukan cuma ancaman bagi lingkungan, tapi juga bagi martabat bangsa kita sendiri.

AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar