Tapi yang muncul justru tekanan internasional dengan standar ganda. Dalam situasi seperti itu, keputusan Presiden RI kala itu untuk menyampaikan permintaan maaf kepada negara serumpun, lebih tepat dilihat sebagai langkah diplomatik yang tak terhindarkan.
Refleksi Kritis: Belajar dari Masa Lalu
Dari pengalaman pahit itu, setidaknya ada tiga pelajaran berharga untuk generasi sekarang dan mendatang.
Pertama, narasi adalah kekuasaan. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang mengendalikan persepsi global. Saat itu, Indonesia cenderung reaktif. Kita gagal membangun kontra-narasi yang kuat berbasis data ilmiah.
Kedua, waspadai bahaya simplifikasi. Menganggap kebakaran semata-mata "ulah manusia" dengan mengabaikan faktor iklim global, hanya akan mengorbankan kelompok masyarakat kecil yang sebenarnya paling rentan.
Ketiga, kedaulatan dalam diplomasi. Posisi tawar kita bisa melemah jika tidak hati-hati, dan itu membuka pintu untuk tekanan eksternal yang lebih besar. Dengan indikasi kemarau panjang seperti sekarang, kita harus belajar dari kesalahan lama. Jangan sampai terperosok ke lubang yang sama.
Lalu, langkah strategis apa yang diperlukan? Beberapa hal ini mungkin bisa jadi pertimbangan: membangun sistem peringatan dini berbasis iklim global, mengutamakan pendekatan preventif ketimbang represif, melindungi petani kecil dari kriminalisasi, menegakkan hukum yang bersih dari praktik rente, dan membangun diplomasi yang kokoh berbasis data serta kedaulatan narasi.
Penutup
Pada akhirnya, kebakaran hutan bukan cuma soal api yang membakar pepohonan. Ini adalah persoalan kebijakan yang kompleks, tentang keadilan, dan tentang mempertahankan kedaulatan. Pengalaman 1996-1998 mengajarkan bahwa negara harus jeli membedakan: mana fenomena alam, mana kesalahan manusia; mana upaya menegakkan keadilan, mana yang sekadar oportunisme; serta mana diplomasi yang elegan, mana yang bentuk lain dari penyerahan diri.
Jika pelajaran ini diabaikan, maka setiap musim kemarau bukan cuma ancaman bagi lingkungan, tapi juga bagi martabat bangsa kita sendiri.
AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).
Artikel Terkait
Bus Agra Mas Tabrak Truk Bawang di Tol Solo-Ngawi, 1 Tewas dan 31 Luka-luka
Polda Riau Ganti Halal Bihalal dengan Bagikan Bibit Pohon di Idul Fitri
Genangan 30 Cm di Tol Jagorawi Picu Macet, TIP KM 10 Ditutup
Kabulkan Permohonan Keluarga, KPK Alihkan Yaqut Cholil Qoumas ke Tahanan Rumah