JAKARTA Paul Finsen Mayor, seorang Senator sekaligus Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay, mendesak dengan tegas agar Kejaksaan Agung segera memanggil para Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP). Hal ini terkait dengan penggunaan dana Otonomi Khusus atau Otsus yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Desakan ini muncul di tengah kecaman publik yang mempertanyakan efektivitas anggaran besar itu. Banyak yang merasa, realitas di lapangan tak sebanding dengan besarnya dana yang digelontorkan.
Menurut sejumlah saksi, masalah mendasar yang dihadapi Orang Asli Papua (OAP) seolah tak kunjung terselesaikan. Padahal, dana terus mengalir setiap tahunnya.
"MRP di setiap provinsi tampak absen dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai pendamping, fasilitator, dan mediator antara masyarakat adat pemilik hak ulayat dengan pihak pemerintah," tutur PFM, Sabtu (21/3/2026).
Dia melanjutkan, "Ketidakhadiran lembaga ini dalam krisis yang menimpa masyarakat adat menjadi tanda tanya besar mengenai ke mana arah penggunaan anggaran selama ini."
Di sisi lain, persoalan-persoalan krusial masih terus membayangi. Mulai dari perampasan tanah adat, insiden penembakan, hingga nasib ratusan ribu pengungsi internal dari kalangan OAP yang seakan terlunta-lunta. Situasi ini, bagi PFM, adalah bukti nyata kegagalan MRP dalam mengawal amanat pembentukannya. Padahal, perlindungan hak-hak dasar OAP adalah tugas mutlak mereka.
Artikel Terkait
Jakarta Tawarkan Opsi Mudik ke Ibu Kota dengan Beragam Insentif Jelang Lebaran
Indonesia Siaga Karhutla, Refleksi 1998: Antara Faktor Alam, Kesalahan Manusia, dan Pelajaran Diplomasi
Lima Orang Terluka dalam Tabrakan Dua Mobil di Jalan Raya Bojonegoro
Korlantas Terapkan Sistem One Way di Tol Cikampek Akibat Lonjakan Arus Lebaran