Komitmennya jelas: mendampingi revitalisasi BUMDes agar jadi mesin ekonomi masyarakat yang hidup, bukan formalitas belaka. Rifai bahkan melihat peluang sinergi yang bagus. Kolaborasi antara Kopdes Merah Putih dan BUMDes bisa memutus rantai tengkulak yang kerap membelit petani di wilayahnya.
Forum rembug yang dihadiri bupati, kepala OPD, dan seluruh kepala desa itu intinya ingin menyelaraskan kebijakan. Tujuannya satu: mempercepat kemandirian ekonomi desa. Dalam kesempatan itu, Mendes Yandri juga menyempatkan diri menyerap aspirasi langsung dari para kepala desa. Mau dengar sendiri dinamika dan kendala di akar rumput.
Dan ada kabar menarik yang dibawanya. Ke depan, kolaborasi internasional akan jadi salah satu strategi penguatan desa.
“Kami membawa kabar baik mengenai kelanjutan program kerja sama dengan World Bank yang akan memberikan dukungan bantuan langsung ke desa. Ini adalah peluang besar yang harus disiapkan secara matang oleh perangkat desa agar pemanfaatannya tepat sasaran,” ujar mantan Wakil Ketua MPR RI itu.
Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan komitmen bersama. Semua sepakat untuk menjadikan desa-desa di Bengkulu Selatan sebagai penggerak ekonomi yang mandiri, transparan, dan tentu saja berkelanjutan. Sebelum berpamitan, Mendes Yandri sempat membagikan bingkisan kepada warga dan santri setempat. Sebuah kunjungan kerja yang diharapkan tak sekadar seremonial, tapi benar-benar memberi denyut baru.
Artikel Terkait
Kebakaran Pabrik di Daejeon Tewaskan 11 Pekerja, Puluhan Luka-luka
Mengenal Tradisi Unik Lebaran di Indonesia, dari Ketupat hingga Grebeg Syawal
Warga Depok Antre sejak Pagi di Istana Demi Sembako, Cerita di Balik Open House
Pemerintah Beri Remisi Idulfitri ke 155.908 Warga Binaan, 1.162 Langsung Bebas