Ia lantas menggambarkan masyarakat bagai orkestra. Beragam alat musik dengan suara berbeda-beda, tapi kalau dimainkan selaras, hasilnya adalah keindahan. Ibaratnya, simfoni yang memukau.
Di sisi lain, Ma'ruf juga mengingatkan soal warisan Ramadan. Bulan suci itu, katanya, tak cuma membentuk kesalehan spiritual di dalam diri. Ada juga dimensi sosialnya yang kuat, yang terlihat dari gelombang zakat, infak, dan sedekah.
Nilai-nilai itu harusnya nggak berhenti begitu Ramadan usai.
"Islam tidak hanya membangun kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan sosial. Zakat dan sedekah adalah instrumen untuk pemerataan ekonomi," tegasnya.
Di penghujung khutbah, ajakannya sederhana tapi mendasar: istiqomah. Menjaga konsistensi dalam keimanan dan amal baik, meski bulan Ramadan sudah tinggal kenangan. Hidup di jalan yang lurus, dalam ibadah maupun dalam pergaulan sosial, itu yang ditekankan.
Salat Id kali ini sendiri dihadiri sekitar dua ribu jemaah, campuran dari ASN dan masyarakat biasa. Acara itu sekaligus jadi ajang silaturahmi dan halalbihalal antara pemerintah dan warga. Sebuah praktik nyata dari pesan-pesan yang disampaikan di atas mimbar.
Artikel Terkait
Mengenal Tradisi Unik Lebaran di Indonesia, dari Ketupat hingga Grebeg Syawal
Warga Depok Antre sejak Pagi di Istana Demi Sembako, Cerita di Balik Open House
Pemerintah Beri Remisi Idulfitri ke 155.908 Warga Binaan, 1.162 Langsung Bebas
Petugas Kebersihan Purwakarta Tinggalkan Keluarga Demi Kebersihan Kota Saat Lebaran