Karungut Dayak Uud Danum Bahing Pomollum: Pesona & Makna Seni Lisan di Pontianak

- Rabu, 12 November 2025 | 22:54 WIB
Karungut Dayak Uud Danum Bahing Pomollum: Pesona & Makna Seni Lisan di Pontianak
Pertunjukan Karungut Dayak Uud Danum "Bahing Pomollum" di Pontianak

Karungut Dayak Uud Danum "Bahing Pomollum" Meriahkan Pentas Seni di Pontianak

Komunitas Langkau Etnika Kalbar sukses menggelar pertunjukan sastra lisan yang memukau berjudul "Bahing Pomollum" atau "Senandung Kehidupan". Acara yang menampilkan kesenian Karungut dari masyarakat Dayak Uud Danum (Ngaju) daerah Serawai–Ambalau ini digelar di Creative Hall Port 99, Pontianak.

Pertunjukan ini merupakan sebuah eksplorasi mendalam terhadap kearifan lokal etnis Dayak Uud Danum. Karungut sendiri adalah sebuah bentuk seni tradisional yang memadukan unsur syair puitis, alunan musik, dan pesan moral yang dalam. Melalui "Bahing Pomollum", Langkau Etnika berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai filosofis yang menjadi panduan hidup masyarakat adat.

Makna Filosofis "Bahing Pomollum"

Josafat, salah satu aktor dalam pertunjukan tersebut, menjelaskan bahwa "Bahing Pomollum" adalah sebuah narasi epik tentang perjalanan hidup manusia Dayak Uud Danum, mulai dari kelahiran hingga kematian. Lebih dari sekadar cerita, pertunjukan ini mengandung pesan kuat tentang hubungan simbiosis antara manusia dan alam.

"Cerita ini mengingatkan kita semua untuk tidak merusak alam, karena alam adalah sumber spiritual dan kehidupan itu sendiri," jelas Josafat. Ia menekankan bahwa pesan ini sangat relevan dengan kondisi zaman modern di mana eksploitasi alam seringkali dilakukan demi keuntungan materi.

Upaya Pelestarian di Tengah Tantangan Modernisasi

Josafat mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin memudarnya minat generasi muda terhadap seni Karungut. "Yang masih aktif melestarikan tradisi ini kebanyakan adalah generasi tua. Sangat disayangkan jika generasi muda justru menjadi asing dengan warisan budayanya sendiri," ujarnya.

Apresiasi tinggi datang dari salah satu penonton, Arifaldo, yang menyatakan kekagumannya atas pertunjukan tersebut. "Sebagai pencinta seni, saya sangat mendukung para seniman yang berusaha menghidupkan kembali budaya yang hampir terputus ini. Semoga generasi muda bisa lebih peduli dengan warisan leluhur," ungkapnya.

Pertunjukan "Bahing Pomollum" oleh Langkau Etnika Kalbar tidak hanya sekadar tontonan seni, tetapi merupakan sebuah pernyataan sikap dan upaya konkret dalam menjaga kelestarian sastra lisan Karungut. Karya ini sekaligus menjadi medium yang powerful untuk menyampaikan pesan tentang urgensi menjaga keseimbangan alam dan melestarikan warisan budaya Nusantara untuk generasi mendatang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar