"Waktu itu saya bernazar. Kalau bisa sembuh, saya ingin jalan kaki."
Nah, nazar itulah yang kini ditepatinya. Dengan rute sepanjang 130 kilometer, tentu butuh persiapan fisik dan mental yang kuat. Edi mengaku sudah siap menghadapi segala rintangan. "Kalau naik motor sih cuma tiga jam," katanya sambil tertawa. "Tapi ya ini nazar. Saya perkirakan empat hari empat malam jalan."
Lalu, kenapa harus membawa gerobak? Rupanya, itu bagian dari rencananya. Begitu tiba di kampung halaman, ia langsung akan melanjutkan usaha berjualan siomay. Jadi, gerobak itu bukan beban, melainkan modal untuk menghidupi keluarga di rumah.
Perjalanan Edi masih berlanjut. Di tengah ramainya arus mudik dengan kendaraan bermotor, langkahnya yang pelan namun penuh tekad justru menyita perhatian. Sebuah perjalanan yang bukan cuma tentang sampai di tujuan, tapi juga tentang memenuhi janji pada diri sendiri.
Artikel Terkait
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka
Anggota DPR: Gelombang Mudik Lebaran Dongkrak Ekonomi Daerah Ratusan Triliun
Bareskrim Ungkap Peredaran Narkoba di Klub Eksklusif Kuningan, 5 Orang Ditangkap
Polisi Identifikasi Dua Tersangka Eksekutor Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS