Di sisi lain, perantara T dan AR juga punya langkah sendiri. Mereka menjual lagi sekitar 1,47 ton daging yang sama ke SS, kali ini dengan harga lebih tinggi, Rp 80 ribu per kilogram. Dari transaksi ini, keduanya meraup untung sekitar Rp 40 juta.
Lalu, bagaimana dengan SS? Perannya sebagai pembeli sekaligus penjual kembali. Meski tahu persis kondisi daging itu, dia tetap membelinya demi mengambil keuntungan.
"Dia tahu dagingnya kedaluwarsa. Tapi untuk cari untung, daging itu dijual lagi ke beberapa orang di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta," terang Setyo.
"Kurang lebih 100 kilogram dia jual dengan harga antara Rp 81 ribu sampai Rp 85 ribu per kilo," sambungnya.
Kasus ini kemungkinan masih panjang. Setyo menegaskan bahwa penyidik masih akan mendalami kemungkinan adanya penjualan lain dan mengusut kemungkinan keterlibatan pihak-pihak lain dalam jaringan distribusi ini.
"Kami berkomitmen untuk terus menegakkan hukum dan mengembangkan penyelidikan. Siapa pun yang terlibat dalam perdagangan daging kedaluwarsa ini akan kami proses," tegas Setyo.
Artikel Terkait
Iran Luncurkan Rudal Sejjil untuk Pertama Kali dalam Serangan Balasan ke AS dan Israel
Golkar Tanggapi Usulan WFH PNS: Dukung Penghematan, Khawatirkan Pelayanan Publik
Polisi Tangkap Tiga Anggota Komplotan Perampok yang Tindas Lansia di Cileungsi
Pasar Ponsel Rp1 Jutaan Makin Sengit, Tawarkan RAM 8 GB dan Fitur Premium