Ia membeberkan, kemampuan menyetir tanpa henti selama tiga atau empat jam sangat bergantung pada kondisi fisik si pengemudi. Tubuh yang sehat dan bugar jelas berdampak besar pada tingkat konsentrasi di jalan. Sebaliknya, kelelahan bisa bikin fokus buyar dan ujung-ujungnya membahayakan keselamatan semua orang di dalam mobil.
"Ketika melakukan perjalanan jauh dengan mobil jangan berpikir untuk cepat sampai. Itu salah, kita harus berpikir selamat, bukan cepat sampai. Sepanjang perjalanan harus bisa menikmati proses berkendaranya," terangnya.
Selama di perjalanan, manfaatkan saja fasilitas yang ada. Rest area di tol atau posko mudik yang bertebaran bisa jadi tempat singgah yang tepat. Satu tips lagi, untuk perjalanan jarak jauh, usahakan ada dua orang yang bisa menyetir. Dengan begitu, kalau yang satu mulai lelah, bisa bergantian.
"Triknya, saat yang satu mengemudi terutama di siang hari maka yang satu lagi diusahakan tidur. Tidak usah lama-lama, cukup setengah jam sampai satu jam untuk restart body," pungkas Rifat.
Jadi, ingat selalu. Mudik itu tentang sampai dengan selamat, bukan tentang memecahkan rekor kecepatan. Nikmati prosesnya, dengarkan tubuh, dan pastikan setiap istirahat adalah investasi untuk keselamatan.
Artikel Terkait
Polisi Amankan Konvoi Remaja dan Petasan di Jakarta Barat Jelang Ramadan
Truk Tangki Angkut 18 Ton Minyak Goreng Terguling dan Tumpah di Sumedang
Polisi Amankan Tujuh Pelaku Pencurian Besi Pelindung Tiang di Jembatan Suramadu
BPJPH dan Lembaga Halal Perkuat Sinergi dalam Buka Puasa Bersama