Di tengah hiruk-pikuk berita soal dampak konflik Timur Tengah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru angkat bicara. Ia dengan tegas menampik narasi yang menyebut Rupiah terpuruk akibat eskalasi geopolitik itu. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Minggu (15/3/2026), Purbaya malah menunjukkan sejumlah data yang menurutnya membuktikan ketahanan mata uang kita.
“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur,” ujarnya.
“Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita.”
Poinnya sederhana: menurut catatan historis, pelemahan Rupiah saat konflik bersenjata terjadi ternyata sangat minim. Tak sedramatis yang dibayangkan atau mungkin dikhawatirkan oleh banyak kalangan. Purbaya bahkan menyindir bahwa komentar negatif justru kerap datang dari pihak yang tidak benar-benar terlibat dalam pasar.
“Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin,” tambahnya dengan nada khas.
Lalu, apa yang jadi patokannya? Purbaya merujuk pada instrumen risiko nyata. Credit Default Swap atau CDS tenor lima tahun untuk Indonesia, misalnya, kondisinya masih relatif stabil. Begitu pula dengan spread imbal hasil Surat Berharga Negara terhadap surat utang Amerika Serikat. Pergerakannya tipis saja.
“Artinya asing masih percaya ke kita,” tegasnya.
“Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya.”
Di sisi lain, kepercayaan investor global ini ternyata punya bukti yang lebih konkret: arus modal. Memang ada aliran keluar dari SBN sekitar Rp0,7 triliun di bulan Maret. Tapi angka itu tertutupi oleh masuknya dana yang jauh lebih besar di instrumen lain. SRBI Bank Indonesia, contohnya, berhasil menarik Rp2,2 triliun. Pasar saham juga tak ketinggalan, dengan inflow yang mencapai Rp2,2 triliun.
“Jadi setelah goncang-goncang-goncang, di Maret sepertinya masih masuk ke sini Pak,” papar Purbaya.
“Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang.”
Intinya, melalui penjelasan ini Purbaya berusaha meluruskan persepsi. Fundamental ekonomi Indonesia, dalam pandangannya, tetap resilien. Sentimen geopolitik global tidak serta-merta menghancurkan, terutama bagi para pelaku pasar yang benar-benar menanamkan modalnya secara riil di dalam negeri. Guncangan ada, tapi ketahanan kita, katanya, masih solid.
Artikel Terkait
Meta Siapkan Dana Rp2.500 Triliun untuk Investasi AI, Wall Street Khawatir
Menkeu Terbitkan Aturan Baru Tata Kelola Anggaran OJK, Pemerintah Jamin Independensi Tetap Terjaga
Indeks Kepercayaan Industri April 2026 Turun Tipis ke 51,75, Kemenperin Sebut Masih Ekspansif
Nova Arianto Puji Transisi Timnas Indonesia di Bawah John Herdman, Optimistis Hadapi Piala AFF 2026