Di sisi lain, pengaruhnya tak hanya di ruang kuliah. Pada 1980-an, ia terjun ke dalam gelanggang kontroversial yang disebut Perselisihan Sejarawan. Di sana, ia berdebat sengit dengan sejarawan seperti Ernst Nolte dari Berlin, yang kala itu mencoba menawarkan perspektif baru soal Reich Ketiga dan identitas bangsa Jerman pasca-perang.
Reaksi atas kepergiannya pun datang dari pucuk pimpinan negara.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyampaikan ucapan duka cita yang mendalam. "Jerman dan Eropa telah kehilangan salah satu pemikir paling penting di zaman kita," katanya.
Ucapan itu bukan sekadar formalitas. Ia menggambarkan betapa besarnya jejak yang ditinggalkan sang filsuf seorang manusia yang pikirannya membentuk zaman, dan kini telah pergi meninggalkan kita dengan segudang pertanyaan yang masih harus kita jawab bersama.
Artikel Terkait
Iran Sumpahkan Akan Mengejar dan Menghabisi Netanyahu
Prajurit TNI Raih Juara Pertama Musabaqah Hifdzil Quran Internasional di Libya
Kombes Ardiyanto Dinonaktifkan Diduga Memeras Tersangka Narkoba Rp375 Juta
Menteri Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Ganggu Stok Pangan dan BBM Nasional