Gelondongan Kayu di Tengah Banjir Garoga: Bareskrim Buru Perusahaan di Hulu

- Senin, 08 Desember 2025 | 21:30 WIB
Gelondongan Kayu di Tengah Banjir Garoga: Bareskrim Buru Perusahaan di Hulu

Banjir bandang yang meluluhlantakkan Garoga di Tapanuli Selatan ternyata menyisakan teka-teki. Bukan hanya lumpur dan puing, arus deras juga membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar. Dari mana asalnya? Bareskrim Polri kini mulai menyelidiki.

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim menyatakan akan memeriksa sebuah perusahaan yang beroperasi di hulu Sungai Garoga. Perusahaan ini diduga melakukan pembukaan lahan atau land-clearing. Dugaan sementara, aktivitas inilah yang berkaitan dengan kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir.

Brigjen Mohammad Irhamni, sang Dirtipidter, mengonfirmasi rencana itu. "Besok, tim akan melanjutkan penyelidikan dengan memeriksa salah satu perusahaan di hulu," ujarnya lewat keterangan tertulis, Senin (8/12/2025).

Meski menyebut PT TBS, Irhamni belum mau berpanjang lebar. Detail tentang perusahaan itu, termasuk bidang industrinya, masih ditelusuri lebih lanjut.

Di sisi lain, upaya pengumpulan bukti di lapangan sudah berjalan. Tim penyidik telah mengamankan 27 sampel kayu yang terserak di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Garoga. "Police line terpasang, sampel sudah diambil," kata Irhamni. Tujuannya jelas: melacak asal-usul kayu tersebut.

Mereka juga melibatkan ahli. Hasilnya, kayu-kayu itu didominasi jenis karet, ketapang, dan durian. Yang lebih mencurigakan, identifikasi menunjukkan campur tangan manusia yang jelas. Ada bekas potongan gergaji, bahkan tanda-tanda penggunaan alat berat untuk mencabut kayu beserta akarnya.

"Kami temukan beberapa kategori," terang Irhamni. "Ada kayu hasil gergajian, ada yang tercabut pakai alat berat, ada juga yang dari longsor dan pengangkutan loader."

Isu tentang pembukaan lahan di hulu sebenarnya sudah mencuat sebelumnya. Menteri Lingkungan Hidup setempat, Hanif Faisol Nurofiq, pernah menyoroti satu perusahaan perkebunan sawit. Menurutnya, perusahaan itu membuka lahan sekitar 200 hektare di area hulu Sungai Garoga.

Hanif meyakini, aktivitas itu turut memperparah aliran permukaan saat hujan deras mengguyur. "Yang runtuh itu kontribusinya besar," katanya dalam sebuah wawancara, Sabtu (6/12).

Namun begitu, ia menekankan perlunya penghitungan dan analisis lebih mendalam, membandingkan data satelit dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.

Bencana itu sendiri dampaknya sungguh parah. Desa Garoga disebut-sebut hilang tertimbun. Rumah-rumah warga terkubur di bawah tanah dan tumpukan kayu gelondongan yang ikut menghanyutkan segalanya.

Sekarang, semua mata tertuju pada penyelidikan itu. Apakah perusahaan yang dimaksud benar menjadi pemicu? Jawabannya masih digali dari tumpukan kayu bukti dan jejak di hulu sungai.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar