Derasnya Arus dan Kardus Berat
Di sisi lain, suasana kerja yang lebih sibuk langsung terasa di lapangan. Slamet (38), porter lain di stasiun yang sama, terlihat sibuk memanggul kardus berisi air mineral sambil menarik koper seorang penumpang. Ia sudah hampir lima tahun berkecimpung di pekerjaan ini.
“Biasanya ada jadwal giliran. Kami kerja sesuai pembagian dari koordinator,” jelas Slamet tentang sistem kerja mereka. Sistem gilir itu memastikan selalu ada porter yang siap membantu sepanjang hari.
Tapi di puncak musim mudik, semua harus bergerak lebih cepat. Barang-barang yang dibawa penumpang juga seringkali lebih banyak dan berat. “Kadang ada yang bawa kardus besar sekali. Beratnya bisa belasan kilo,” keluhnya. Meski lelah, ada nuansa khusus yang dirasakan Slamet dan kawan-kawannya. Keramaian stasiun yang dipenuhi orang-orang yang ingin pulang kampung menghadirkan energi tersendiri sebuah tanda bahwa hari raya sebentar lagi tiba.
Jadi, di balik hiruk-pikuk persiapan mudik, ada cerita lain yang berjalan. Cerita tentang kerja keras dan harapan sederhana para porter yang justru menemukan momentumnya di tengah keramaian itu.
Artikel Terkait
Taman Bendera Pusaka di Kebayoran Baru Diresmikan, Menampilkan Patung Fatmawati yang Sedang Hamil
Arus Mudik Lebaran 2026: Penumpang Turun Tipis, Kendaraan Meningkat Signifikan
Trump Serukan Patroli Multinasional untuk Amankan Selat Hormuz
Gus Ipul: Akurasi Data Bansos adalah Jihad Bersama di Ramadan