Ketegangan di Selat Hormuz memuncak. Presiden AS Donald Trump, lewat unggahan di Truth Social pada Sabtu (14/3), secara terbuka meminta bantuan sejumlah negara untuk mengamankan jalur air vital itu. Dia mengajak Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang dirugikan oleh gangguan lalu lintas.
"Banyak negara, terutama yang terdampak oleh upaya Iran menutup Selat Hormuz, akan mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga selat tersebut tetap terbuka dan aman," tulisnya.
Permintaan Trump ini muncul di tengah perang yang melibatkan Amerika dan sekutunya Israel melawan Iran. Selat Hormuz, jalur sempit yang jadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia, memang jadi titik panas. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati sini. Situasinya makin runyam karena militer Iran menjaga ketat perairan itu, menutupnya bagi kapal-kapal berbendera AS dan sekutu Barat.
Namun begitu, bukan berarti lalu lintas terhenti total. Lewat negosiasi langsung, Iran masih memberi izin melintas untuk kapal dari beberapa negara seperti Turki, India, dan Cina. Tapi ceritanya beda bagi yang nekat memaksa masuk tanpa izin. Menurut sejumlah laporan, beberapa kapal sudah hancur atau terbakar akibat serangan udara.
Trump mengklaim kemampuan militer Iran sudah 100% hancur. Tapi klaim itu tampaknya tak sepenuhnya meredakan kekhawatiran. Pasalnya, Iran dinilai masih punya cukup kemampuan untuk mengirim drone, menebar ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di sekitar selat. Risikonya nyata.
Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak dalam dua pekan terakhir bolak-balik menembus angka psikologis US$100 per barel. Bahkan, pejabat tinggi Iran sudah memperingatkan kemungkinan harga minyak bisa melonjak jauh lebih gila, mungkin menembus US$200 per barel angka yang bakal jadi rekor sejarah baru.
Di sisi lain, respons dari negara yang diajak Trump, seperti Cina, terlihat lebih hati-hati. Juru bicara Kedutaan Besar Cina di Washington D.C., Liu, menyerukan penghentian operasi militer di kawasan itu secepatnya.
Menurutnya, menjaga keamanan dan stabilitas kawasan adalah kepentingan bersama komunitas internasional. Liu menegaskan semua pihak punya tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi tetap lancar.
"Cina akan memainkan peran konstruktif untuk meredakan ketegangan dan memulihkan perdamaian," ujarnya, seperti dikutip South China Morning Post.
Jadi, situasinya rumit. Ada desakan AS untuk membentuk semacam patroli multinasional, tapi ada juga seruan dari pihak lain untuk gencatan senjata. Sementara itu, di perairan sempit Selat Hormuz, ancaman bentrokan tetap mengambang. Dan dunia menunggu, sambil memantau harga minyak yang terus bergolak.
Artikel Terkait
Wakapolri Soroti Tata Kelola Keuangan, Tiga Polda Raih Penghargaan IKPA Terbaik
Korban Tewas Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
Pencegahan Korupsi Mandul, Pengawasan Internal di K/L dan Pemda Dinilai Tak Efektif
Wakil Ketua MPR Dorong Seni Ukir Jepara Masuk Warisan Dunia UNESCO