tambahnya. Keberatan hotel ini akhirnya memaksa jamaah mengambil jalan pintas yang tidak nyaman. Dalam kondisi lelah dan frustrasi, mereka memutuskan menyewa sendiri dua kamar hotel untuk menampung seluruh 18 orang.
“Sekarang jamaah tinggal tumpuk-tumpuk,”
keluhnya. Kondisi sesak itu jelas jauh dari harapan mereka yang datang untuk beribadah.
Memang, sehari setelahnya, pada 13 Maret, Hotel Mira Ajyad sempat menawarkan alternatif penginapan. Namun sayang, lokasinya jauh dari Masjidil Haram sehingga perlu transportasi khusus. Jamaah pun menolak tawaran yang dinilai tidak praktis itu. Alhasil, sampai berita ini diturunkan, biaya menginap masih ditanggung sendiri oleh jamaah.
“Sampai saat ini tidak ada solusi dari pihak hotel, dan perwakilan pemerintah Indonesia sementara jamaah uangnya sudah habis,”
tutup Ajat dengan nada prihatin. Mereka seolah terkatung-katung, terjepit antara prosedur birokrasi dan kenyataan di lapangan, sementara dana yang mereka bawa semakin menipis.
Artikel Terkait
Indonesia Kecam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Serukan Penghentian Kekerasan
Aktivis HAM Andrie Yunus Disiram Air Keras, JMSI Sebut Serangan terhadap Demokrasi
Antrean Motor Pemudik Padati Pelabuhan Ciwandan pada Malam Hari
Arus Mudik Lebaran 2026 Mulai Terasa, Tiket H-4 di Stasiun Gambir Laku 50.000