Di sisi lain, korban dari aksi-aksi digital ini bukan cuma sistem anonim. Nama-nama besar juga jadi sasaran. Ambil contoh Naftali Bennett, mantan perdana menteri Israel yang bakal bersaing melawan Benjamin Netanyahu di pemilu nanti. Pada Desember 2025 silam, dia mengaku jadi korban serangan siber yang menyasar akun Telegram pribadinya.
Klaim itu muncul setelah sekelompok peretas menduga berhasil membobol ponsel Bennett.
Akibatnya, pesan pribadi, sejumlah video, dan foto-foto yang diduga berasal dari ponselnya pun tersebar luas. Semua materi itu dibeberkan di sebuah situs peretas bernama 'Handala' karakter yang identik dengan perlawanan Palestina serta di sejumlah akun X yang terkait.
Menurut seorang ahli yang berbicara kepada AFP, aksi peretas yang dikaitkan dengan Iran ini memang semakin gencar di kawasan itu. Operasi mereka meningkat pesat pasca serangan fisik dimulai. Situasinya makin runyam, dan kewaspadaan ekstra mutlak diperlukan.
Artikel Terkait
Menteri hingga Kapolda Turun Tangan Bersih-bersih Pasar Kramat Jati
Harga Minyak Dunia Anjlomprong, Bahlil Tegaskan Pertalite Tak Naik
Polisi Tangkap Pelaku Diduga Pembunuhan Pria 65 Tahun di Bekasi
OJK Malang Catat Kredit Tumbuh 4,66% yoy, NPL dan Blokir Rekening Judi Meningkat