"Jangan diplintir-plintir seolah-olah 21 hari atau 23 hari itu sudah habis. Itu buffer stock kita, tapi (pasokan) kan datang terus,"
tegasnya. Ia menjelaskan, angka tersebut hanyalah stok penyangga. Sementara itu, produksi dalam negeri dan impor tetap mengalir seperti biasa, menjaga rantai pasokan tetap utuh.
Menjaga Stabilisasi di Tengah Kepanikan Global
Langkah pemerintah ini muncul di saat yang tepat. Gejolak geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah memicu gelombang panic buying di beberapa negara. Ancaman terhadap Selat Hormuz jalur vital bagi seperlima minyak dunia membuat banyak orang khawatir. Antrean panjang di SPBU mulai terlihat di berbagai tempat.
Namun begitu, Indonesia memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih ikut panik, pemerintah justru fokus pada stabilisasi. Melalui koordinasi intensif antar kementerian, Kementerian ESDM memastikan prioritas utama adalah menjaga kelancaran pasokan energi. Tujuannya jelas: agar mobilitas masyarakat, terutama dalam menyambut hari raya, tidak terganggu sama sekali.
Jadi, untuk sementara, publik bisa bernapas lega. Fokus pemerintah masih tertuju pada keamanan stok dan stabilitas harga di dalam negeri, meskipun badai ketidakpastian masih menggelora di panggung dunia.
Artikel Terkait
Menlu: 36 WNI di Iran Daftar Repatriasi Gelombang Kedua
Presiden Prabowo Tegaskan Kekuasaan adalah Amanah dan Tugas Melindungi Seluruh Rakyat
DPRD Sumsel Rencanakan Pengadaan Meja Biliar Senilai Rp 486 Juta, Tuai Sorotan
AS Bom Telak Fasilitas Bawah Tanah Iran, Fokus Lumpuhkan Produksi Rudal