Benjamin Netanyahu punya pesan keras untuk Iran. Dalam kunjungannya ke Pusat Komando Kesehatan Nasional, Perdana Menteri Israel itu menegaskan bahwa serangan militernya belum berakhir. "Kita belum selesai," ujarnya tegas, Senin malam lalu. Pernyataannya baru dirilis ke publik pada Selasa (10/3/2026).
Netanyahu merasa operasi militer Israel telah berhasil melemahkan posisi para ulama yang memimpin di Teheran. Meski begitu, dia menyebut harapan terbesarnya adalah melihat rakyat Iran sendiri yang bangkit.
"Impian kita sebenarnya sederhana: membawa rakyat Iran terbebas dari belenggu tirani. Tapi, ya, akhirnya semua itu terserah pada mereka," kata Netanyahu, seperti dilansir AFP.
Namun begitu, dia tak menyembunyikan keyakinannya atas dampak serangan yang telah dilakukan. "Yang pasti, dengan segala aksi yang sudah kita jalankan, kita sedang menghancurkan tulang punggung mereka. Dan sekali lagi, ini belum berakhir."
Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu memang telah menimbulkan kerusakan parah. Banyak tokoh kunci Iran tewas, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.
Respon Iran pun datang bertubi-tubi. Mereka membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS. Situasi ini dengan cepat membumbungkan ketegangan, membuat konflik menjalar ke berbagai penjuru Timur Tengah.
Di sisi lain, pernyataan Netanyahu yang bernada melanjutkan ini justru kontras dengan sikap sekutunya. Presiden AS Donald Trump menyatakan pandangan yang berbeda. Menurutnya, perang melawan Iran sudah hampir rampung.
"Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya," kata Trump dalam percakapan telepon dengan CBS News.
Dia bahkan dengan percaya diri merinci kerusakan yang diderita Iran. "Mereka praktis tak punya angkatan laut lagi, komunikasi hancur, angkatan udara pun sudah tak berarti. Stok rudal mereka menipis. Drone-drone mereka bertebaran jadi puing, bahkan pabrik pembuatannya kita hancurkan."
Jadi, sementara satu pihak menyatakan hampir selesai, pihak lainnya justru bersiap untuk babak berikutnya. Kedua pernyataan yang bertolak belakang ini meninggalkan tanda tanya besar tentang arah konflik ke depannya.
Artikel Terkait
Di Tengah Hiruk Media Sosial, Tiga Pejawat Ini Buktikan Kinerja Nyata Lebih Berarti dari Sekadar Citra
Prajurit TNI di Lebanon Gugur Terkena Ledakan Proyektil, UNIFIL Sebut Serangan Bisa Digolongkan Kejahatan Perang
GRFC 2026: Konflik di Gaza dan Sudan Picu Krisis Kelaparan Akut Global
Kemenhub Siapkan Tiga Langkah Tingkatkan Layanan Motor Gratis (Motis) Usai Angkutan Lebaran 2026