TVRINews – Gaza
Konflik dan Kekerasan Picu Risiko Kelaparan Massal di Gaza serta Sudan
Bayangkan, hampir 150 juta orang angka yang sulit dicerna terperosok ke dalam jurang kelaparan akut hanya dalam satu tahun. Itu bukan fiksi. Itu realitas pahit yang baru saja diungkap oleh Global Report on Food Crises (GRFC) 2026. Laporan ini menyajikan potret buram ketahanan pangan dunia, dan percayalah, tidak ada kata-kata manis di dalamnya.
Sepanjang tahun 2025, konflik dan kekerasan menjadi biang keladi utama. Mereka mendorong manusia ke tepi jurang, ke titik di mana perut kosong bukan lagi sekadar rasa lapar biasa. GRFC, yang disusun oleh koalisi 18 mitra kemanusiaan dan pembangunan, mencatat sejarah kelam: untuk pertama kalinya sejak sistem pelaporan formal diberlakukan, dunia menyaksikan dua wilayah Jalur Gaza dan Sudan jatuh ke fase bencana kelaparan secara bersamaan. Dua titik kelaparan (famine) dikonfirmasi dalam waktu yang sama. Luar biasa, dan bukan dalam arti yang baik.
Tren Mengkhawatirkan di Balik Angka
Ngomong-ngomong soal angka, memang ada sedikit fluktuasi dalam data absolut kerawanan pangan. Tapi jangan terkecoh. Persentase populasi yang terdampak justru stagnan di level yang sangat berbahaya. Di 47 negara yang tengah berjuang melawan krisis, sekitar 266 juta orang atau 22,9 persen dari total populasi hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut. Bandingkan dengan tahun 2016 yang hanya 11,3 persen. Hampir dua kali lipat. Itu bukan tren yang menggembirakan, itu alarm.
Laporan GRFC dengan tegas menyatakan bahwa penurunan angka utama dari tahun sebelumnya bukanlah tanda perbaikan. Bukan. Itu lebih karena berkurangnya cakupan negara yang dianalisis dalam laporan terbaru. Jadi, jangan buru-buru bernapas lega.
Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Global Report on Food Crises/GRFC)
Eskalasi Menuju Fase Bencana
Mengacu pada sistem Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), kondisi kelaparan dinyatakan terjadi ketika setidaknya 20 persen rumah tangga menghadapi kekurangan pangan ekstrem. Lebih mengerikan lagi, angka kematian harus melampaui dua jiwa per 10.000 orang per hari. Itu batasnya. Dan Gaza serta Sudan sudah melampauinya.
"Jalur Gaza menjadi wilayah yang paling terdampak secara signifikan, dengan 640.700 jiwa atau 32 persen dari populasinya menghadapi kondisi katastropik," tulis laporan GRFC yang dikutip Al Jazeera, Jumat 24 April 2026.
Sudun menyusul di peringkat kedua. Jumlah warganya yang terdampak mencapai 637.200 jiwa. Angka yang hampir sama besar, penderitaan yang hampir sama dalam. Namun begitu, kondisi serupa juga terdeteksi di Sudan Selatan, Yaman, Haiti, dan Mali. Bukan hanya dua negara, tapi setidaknya enam wilayah yang terancam.
Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Global Report on Food Crises/GRFC)
Konflik sebagai Katalisator Utama
Di sisi lain, konflik dan kekerasan tetap menjadi pemicu primer di 19 negara. Dampaknya? 147,4 juta individu terjerat dalam krisis pangan. Cuaca ekstrem menjadi faktor utama di 16 negara, memengaruhi 87,5 juta orang. Sementara guncangan ekonomi melanda 12 negara lainnya. Ironisnya, di tengah kebutuhan yang kian mendesak, pendanaan kemanusiaan internasional untuk wilayah krisis justru mengalami penurunan pada tahun 2025. Kembali ke level yang terlihat satu dekade silam. Sungguh, ini seperti menendang orang yang sudah jatuh.
Ancaman Masa Depan: Malnutrisi dan Dislokasi
Dampak jangka panjang dari krisis ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi generasi mendatang. Diperkirakan 35,5 juta anak mengalami malnutrisi akut. Dari jumlah itu, 10 juta di antaranya menderita malnutrisi akut berat yang mengancam nyawa. Belum lagi sekitar 9,2 juta ibu hamil dan menyusui yang juga terjebak dalam krisis nutrisi serupa. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah wajah-wajah masa depan yang mungkin tidak akan pernah terwujud.
Laporan tersebut memperingatkan, tanpa upaya berkelanjutan untuk mengatasi pendorong struktural kelaparan, negara-negara paling rentan di dunia akan terus memikul beban krisis pangan yang tidak proporsional hingga jauh ke tahun 2026. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah pun diprediksi akan terus membayangi stabilitas pasar pangan global dalam beberapa bulan ke depan. Jadi, ini bukan sekadar krisis lokal, tapi ancaman global yang perlahan tapi pasti merayap mendekat.
Artikel Terkait
Polisi Selidiki Dugaan Tindak Pidana di Balik Lompatan Dua PRT dari Lantai 4 Kos di Benhil
Wakil Rektor ACU: Generasi Muda Aktor Utama Penentu Masa Depan di Tengah Disrupsi
Pelindo dan 14 BUMN Luncurkan Program TJSL Terintegrasi untuk Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Raja Ampat
Direktur PLN Suroso Isnandar Resmi Jadi Anggota Majelis Wali Amanat UGM Periode 2026–2031