"Selain itu, kita akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan yang akan membuat Iran hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara -- Kematian, Api, dan Amarah akan menimpa mereka -- Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak akan terjadi!"
Menariknya, di tengah nada mengancam itu, Trump membingkai ulahnya sebagai bentuk perlindungan. Dia menyebut langkahnya ini sebagai upaya menjaga pasar energi dunia, yang katanya adalah "hadiah dari Amerika Serikat kepada China, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz".
"Semoga, ini adalah isyarat yang akan sangat dihargai," tambahnya. Sebuah harapan yang terdengar paradoks, mengingat kata-kata sebelumnya dipenuhi gambaran kehancuran.
Jadi, begitulah. Peringatan sudah disampaikan. Sekarang, semua mata tertuju pada respons Iran selanjutnya. Selat Hormuz sekali lagi jadi titik panas yang menentukan.
Artikel Terkait
DPR RI Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
Tiga Terpidana Kasus Suap Minyak Goreng Rp60 Miliar Ajukan Banding
Trump Kritik Pengangkatan Mojtaba Khamenei Sebagai Kesalahan Besar
Bareskrim Usut Dugaan Pelecehan Seksual Mantan Pelatih Atlet Panjat Tebing Sejak 2021