Dia lalu menambahkan poin penting: bukti serangan berulang ke seluruh kompleks IRGC “menunjukkan sebuah operasi AS yang disengaja dan presisi.”
Pendapat lain datang dari N R Jenzen Jones, direktur Armament Research Services. Dia sebelumnya bilang ke BBC Verify bahwa rudal Iran biasanya punya daya ledak kecil. Jadi, kecil kemungkinan bisa menyebabkan kerusakan sebesar itu pada sekolah.
Sementara itu, di kancah pernyataan resmi, Jenderal Dan Caine pejabat militer tertinggi AS pernah menyebut pada 2 Maret bahwa Tomahawk adalah rudal pertama yang ditembakkan Angkatan Laut AS ke Iran dalam “serangan di sepanjang sayap selatan.”
Pada konferensi pers 4 Maret, Departemen Pertahanan AS bahkan memamerkan peta ilustratif. Di peta itu, kawasan Minab termasuk salah satu target dalam 100 jam pertama perang.
Sayangnya, mencari kebenaran di lapangan sekarang ini sulit. Pemadaman internet yang masih berlangsung di Iran menghambat verifikasi independen. Ditambah lagi, pembatasan ketat terhadap jurnalis internasional membuat suasana di Minab pada 28 Februari lalu seperti tertutup kabut.
Penyelidikan Pelan-Pelan Mengarah ke AS
Nah, belakangan ini, dua pejabat AS yang berbicara ke Reuters mengaku pasukan Amerika “kemungkinan besar” yang bertanggung jawab atas serangan di sekolah putri Minab itu. Tapi mereka buru-buru menambahkan bahwa penyelidikan belum final. Masih mungkin berubah.
Rekaman video dari Mehr News yang kemudian dianalisis detail lokasinya oleh Bellingcat memang menunjukkan asap mengepul tinggi di sekitar sekolah. Pemandangan yang suram.
Pejabat Iran menyebut mayoritas dari 168 korban tewas adalah anak-anak. Masih belum jelas apakah ada anggota IRGC yang tewas, atau aktivitas apa yang sedang berlangsung di sana saat serangan terjadi. Yang pasti, sekolah dasar khusus putri di Minab itu punya 264 murid, menurut data Kementerian Pendidikan Iran.
Para pejabat AS yang diwawancarai Reuters itu enggan disebut namanya karena sensitif bilang mereka tidak menutup kemungkinan munculnya bukti baru yang membebaskan AS. Bisa saja nanti penyelidikan justru menunjuk pihak lain.
Sekolah itu sendiri, berdasarkan arsip situs webnya, memang berdekatan dengan kompleks yang dioperasikan IRGC. Sebuah fakta yang membuat situasi jadi rumit.
Ketika Reuters tanya ke Pentagon, mereka disuruh hubungi Komando Pusat Militer AS. Juru bicaranya, Kapten Timothy Hawkins, cuma bilang, “Tidak pantas berkomentar mengingat insiden tersebut sedang dalam penyelidikan.” Khas.
Gedung Putih juga ogah komentar langsung. Tapi sekretaris pers Karoline Leavitt lewat pernyataan ke Reuters tetap bersikukuh, “Meskipun Departemen Perang sedang menyelidiki, rezim Iran-lah yang menargetkan warga sipil dan anak-anak, bukan Amerika Serikat.”
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, ditanya soal insiden ini, menjawab diplomatis. “Kami sedang menyelidikinya. Tentu saja, kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil. Tapi kami sedang meninjau dan menyelidikinya.”
Senada, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bilang ke wartawan bahwa AS takkan sengaja menarget sekolah. “Departemen Perang akan menyelidiki hal itu jika itu adalah serangan kami, dan saya akan mengarahkan pertanyaan Anda kepada mereka,” ujarnya, mengalihkan pembicaraan.
Di Iran, masyarakat berduka. Foto-foto menunjukkan kerumunan orang menghadiri pemakaman para korban pada 3 Maret 2026. Suasana hati yang berat, sementara kebenaran sesungguhnya masih tersangkut di antara penyelidikan, sangkalan, dan politik internasional.
Artikel Terkait
Trump Kritik Pengangkatan Mojtaba Khamenei Sebagai Kesalahan Besar
Bareskrim Usut Dugaan Pelecehan Seksual Mantan Pelatih Atlet Panjat Tebing Sejak 2021
Trump Klaim Konflik dengan Iran Segera Berakhir, Waspadai Potensi Eskalasi di Bawah Pimpinan Baru
Gubernur Banten Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Lebaran 2026