Lebih jauh, Prabowo menyoroti ketergantungan pada impor BBM yang harus segera diakhiri. Menurutnya, potensi dalam negeri sebenarnya sangat besar. Kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu semua itu bisa diolah menjadi sumber energi alternatif. Ini bukan sekadar wacana, tapi sebuah keharusan untuk mencapai kemandirian yang sesungguhnya.
Pemerintah, ungkap Presiden, tak berhenti memantau dan menganalisis kondisi. Berbagai indikator ekonomi dan potensi sumber daya nasional dipelajari dengan cermat. Dari situ, muncul keyakinan bahwa Indonesia bukan hanya bisa bertahan, tapi bahkan bisa keluar lebih kuat.
“Saya sudah melihat dan mempelajari angka-angka setiap hari. Kita menemukan kekayaan-kekayaan baru. Kita mungkin akan mengalami kesulitan, saya tidak akan menutupi itu, tetapi perkiraan saya kita akan keluar dari keadaan krisis ini dengan lebih kuat, lebih makmur, dan lebih mampu berdikari,” imbuhnya.
Fondasi utama semua itu, sekali lagi, adalah pangan. Capaian swasembada beras harus dilanjutkan dengan terobosan di sektor protein. Itu target berikutnya.
Jadi, pesannya jelas. Di tengah awan gelap ketidakpastian global, Prabowo berusaha menyalakan optimisme. Dengan segala potensi dan perhitungan yang ada, ia yakin Indonesia bisa melalui badai ini bahkan dengan kondisi yang lebih tangguh daripada sebelumnya.
Artikel Terkait
Warga Palu Tukar Sampah Terpilah dengan Takjil di Bulan Ramadhan
Polda Metro Jaya Sediakan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik Lebaran 2026
Manchester City Vs Liverpool Jadi Magnet Utama Perempat Final Piala FA
Panglima TNI Perintahkan Status Siaga Satu, Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah