AS Kecewa dengan Skala Serangan Israel ke Depot Minyak Iran

- Senin, 09 Maret 2026 | 17:15 WIB
AS Kecewa dengan Skala Serangan Israel ke Depot Minyak Iran

Washington tampaknya tak senang dengan aksi Israel akhir pekan lalu. Negeri Paman Sam itu, khususnya Presiden Donald Trump, dikabarkan kecewa melihat skala serangan udara yang dilancarkan ke Iran. Bukan main, puluhan depot minyak jadi sasaran, memicu kobaran api hebat yang menghanguskan langit Teheran.

Menurut laporan Axios yang dirilis Senin (9/3/2026), ini jadi perselisihan penting pertama antara kedua sekutu itu. Padahal, baru pada 28 Februari mereka terlibat serangan terkoordinasi skala besar terhadap Iran. Namun begitu, serangan Sabtu (7/3) lalu rupanya dianggap AS melampaui batas.

Dari jarak beberapa kilometer, api raksasa terlihat jelas menjilat-jilat langit ibu kota Iran. Asap tebal menyelimuti kawasan industri, mengepul dari tangki-tangki penyimpanan bahan bakar yang jadi sasaran. Sekitar 30 depot dilaporkan hancur dalam serangan Angkatan Udara Israel itu.

Di sisi lain, Israel punya alasan sendiri. Lewat pernyataan resmi, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menyebut depot-depot itu digunakan rezim Iran untuk memasok bahan bakar, termasuk untuk kebutuhan militernya.

“Fasilitas itu digunakan oleh rezim Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai konsumen, termasuk organ-organ militernya,” begitu bunyi pernyataan IDF.

Para pejabat Israel berkilah, serangan itu adalah peringatan agar Iran menghentikan targetnya terhadap infrastruktur sipil Israel. Mereka juga menyebut Pentagon telah diinformasikan sebelum serangan dilancarkan.

Tapi rupanya, Washington kaget. Luasnya kerusakan dan sasaran yang dibakar membuat Trump geram. Seorang penasihatnya yang enggan disebut namanya bicara blak-blakan pada Axios.

“Presiden (Trump) tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Dia ingin menyelamatkan minyak, bukan membakarnya. Dan itu mengingatkan orang-orang akan kenaikan harga bensin,” ujar sang penasihat.

Jelas sekali, kekesalan Trump lebih bersifat pragmatis. Dia khawatir aksi bakar-bakaran ini bakal berimbas pada harga energi, sesuatu yang sensitif bagi publik Amerika. Jadi, meski sekutu, soal minyak bisa bikin hubungan mereka sedikit renggang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar