Operasi penangkapan di Yahukimo akhirnya membuahkan hasil. Satgas Operasi Damai Cartenz berhasil mengamankan seorang pria bernama Philip Kobak, yang juga dikenal sebagai Nenak Kobak. Ia diduga kuat merupakan anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang cukup aktif di wilayah Papua Pegunungan.
Penangkapan terjadi Sabtu sore, tepatnya tanggal 7 Maret, di sekitar area Gereja GIDI Kali Brasa, Dekai. Waktu itu menunjukkan pukul 16.44 WIT. Menurut keterangan yang beredar, Kobak sempat berusaha kabur. Ia meninggalkan kendaraannya dan berlari ke arah hutan begitu menyadari kehadiran aparat.
"Setelah dilakukan penyisiran oleh tim di sekitar lokasi, tersangka akhirnya berhasil diamankan," ujar Kombes Yusuf Sutejo, selaku Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026.
Dari tangan Kobak, petugas langsung menyita beberapa barang. Ada uang tunai sekitar Rp 1,1 juta, sebuah ponsel, tas, noken hijau, plus senter dan charger.
Namun begitu, ini baru permulaan. Esok harinya, Minggu (8/3), personel satgas melakukan pengembangan. Mereka menggeledah rumah sang tersangka yang terletak di Jalan Gunung, Kampung Tomon 2, Dekai. Tak hanya itu, beberapa rumah lain yang diduga kerap dijadikan tempat singgah kelompok bersenjata itu juga tak luput dari pemeriksaan.
Hasilnya? Cukup mencengangkan. Dari penggeledahan itu, aparat mengumpulkan sejumlah barang bukti yang tak main-main.
"Tim menemukan sejumlah barang bukti, di antaranya 4 butir amunisi kaliber 5,56 mm, 2 butir amunisi kaliber 9 mm, besi runcing, tas dan noken, dokumen pribadi milik tersangka, busur dan 31 anak panah, 4 parang, 3 kapak, 1 sangkur, 2 pisau dapur, 1 proyektil kaliber 5,56 mm, serta 45 selongsong amunisi kaliber 7,62 mm dan 5,56 mm," papar Yusuf Sutejo dengan rinci.
Peran Philip Kobak dalam kelompok tersebut disebut-sebut cukup penting. Menurut penjelasan Sutejo, yang bersangkutan diduga menjabat sebagai Komandan Kompi Kimbusa Kodap XVI Yahukimo. Ia punya catatan terkait sejumlah aksi kekerasan di wilayah itu.
Penangkapan ini tentu menjadi pukulan bagi kelompoknya. Selain menetralisir seorang komandan, pengamanan puluhan amunisi dan senjata tajam termasuk anak panah dianggap bisa meredam potensi aksi kekerasan selanjutnya di Yahukimo.
Artikel Terkait
Komisi VIII DPR Dorong Kontrak Jangka Panjang Katering Haji demi Efisiensi dan Cita Rasa Nusantara
Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tangguh Hadapi Krisis Energi Global 2026, Golkar: Buah Kerja Keras Pemerintah
Bareskrim Tangkap Istri dan Dua Anak Bandar Narkoba Ko Erwin di Sumbawa
Menteri Olahraga Italia Tolak Keras Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026