"Kemarin karena curah hujannya itu tinggi sekali. Kemarin itu 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta," sambungnya.
Logikanya sederhana, tapi dampaknya fatal. Air hujan yang terus-menerus meresap ke dalam tumpukan sampah akhirnya membuat struktur gunungan itu goyah. Material pun bergeser dan meluncur ke bawah.
"Karena hujan yang lama masuk ke dalam sampah, menyebabkan sliding atau licin kemudian longsor ke bawah," ujar Pramono, menggambarkan prosesnya.
Jadi, kombinasi antara volume sampah yang masif dan cuaca ekstrem telah menciptakan sebuah skenario bencana yang mematikan. Kejadian di Bantargebang ini kembali menyoroti kerapuhan sistem pengelolaan sampah kita ketika dihadapkan pada fenomena alam yang semakin tak terduga.
Artikel Terkait
22 WNI Tiba di Tanah Air Usai Jalani Evakuasi dari Iran yang Dihantui Ledakan
Dua Kementerian Jalin Kerja Sama Kelola Hutan dan Budaya Secara Beriringan
Iran Luncurkan Serangan Rudal ke Pangkalan AS dan Israel di Kawasan Teluk
Pemkot Jakpus Bongkar 31 Bangunan Liar di Belakang Plaza Indonesia Tanpa Relokasi