Sementara itu, akal manusia melibatkan kesadaran dan intensi. Dalam filsafat Islam, akal atau Al-Aql tak hanya rasional, tapi juga intuitif dan bermoral. Manusia mampu merenung, mempertanyakan "mengapa". Mesin cuma bisa menjawab "bagaimana". Eksistensi kita ditentukan oleh agensi kemampuan untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan itu.
Di sisi lain, ketergantungan generasi muda pada algoritma memicu kekhawatiran serius. Pertama, atropi kognitif tadi. Bergantung pada AI untuk menyusun argumen, misalnya untuk tugas kuliah, bisa melemahkan kemampuan sintesis mandiri.
Kedua, krisis otoritas subjek. Kalau mesin mulai menentukan preferensi kita dari selera musik, pandangan politik, sampai keyakinan lalu di mana posisi kita? Manusia berisiko jadi objek yang dikendalikan oleh "akal imitasi". Eksistensi yang seharusnya merdeka jadi mekanistik.
Simbiosis: Kecerdasan yang Berpusat pada Manusia
Lalu, bagaimana solusinya? Jawaban yang mungkin adalah sintesis. Hubungan antara AI dan nalar manusia bukanlah kompetisi, melainkan simbiosis. Dalam kerangka Human-Centric AI, teknologi bukan pengganti kognisi manusia, melainkan alat untuk memperluas kapasitas intelektual kita.
AI itu unggul dalam mengolah data masif dengan efisien. Tapi ia tetap minus dalam hal intensi, intuisi etis, dan pemahaman konteks sosial-budaya yang mendalam. Di sinilah peran kita: menjadi kurator nilai yang memberi arah dan kompas moral pada output algoritmik.
Sintesis ini memadukan dua rasionalitas. Rasionalitas instrumental dari AI yang mengutamakan kecepatan dan akurasi. Dan rasionalitas substantif dari manusia yang menentukan tujuan, refleksi filosofis, serta pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan.
Eksistensi akal manusia ditegaskan lewat agensi moral. Kita tak boleh jadi konsumen pasif yang hanya menelan hasil olahan mesin. Kita harus jadi subjek kritis yang mampu menyaring dan mengoreksi bias algoritma.
Sintesis ideal terjadi ketika AI menangani kompleksitas data, sementara manusia memegang kendali penuh atas keputusan strategis yang menyangkut martabat manusia.
Human-Centric AI pada dasarnya adalah manifesto. Ia menyatakan bahwa kemajuan teknologi harus sejalan dengan penguatan literasi kritis. Dalam ekosistem ini, mesin mempercepat proses, tapi manusia tetap memegang kendali atas makna. Jadi, solusinya bukan menolak akal imitasi, tapi mereposisinya dengan tepat.
Eksistensi akal manusia di tengah kepungan algoritma ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan kedalaman berpikir dan keluhuran moral. Akal imitasi cuma alat yang memproses logika tanpa rasa. Sementara akal manusia adalah entitas satu-satunya yang mampu memberikan jiwa pada pengetahuan.
Bagi generasi muda, tantangannya adalah memanfaatkan AI untuk mempercepat akses informasi, tanpa melepas kendali atas proses kurasi kebenaran dan tanggung jawab etis. Itulah tugas kita ke depan.
Abdul Mukti. Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Artikel Terkait
Anya Geraldine Rasakan Firasat Damai di Pesawat Saat Vidi Aldiano Meninggal
ASDP Gelar Santunan dan Buka Puasa Bersama untuk 200 Penerima Manfaat di Ramadan
Presiden Iran Tegaskan Akan Balas Serangan yang Diluncurkan dari Negara Tetangga
China Serukan Penghentian Segera Perang di Timur Tengah