Intinya, ada pembagian peran yang jelas. Militer Inggris akan fokus pada tugas penghadangan drone di udara. Sementara itu, AS mendapat peran untuk menangani sumber ancaman, yakni lokasi-lokasi peluncuran rudal.
Eskalasi yang Sudah Di Depan Mata
Di sisi lain, dari Washington, nada yang terdengar lebih ofensif. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Kamis kemarin memberi isyarat bahwa operasi akan meningkat drastis.
"Ini akan melibatkan lebih banyak skuadron tempur, lebih banyak kemampuan, dan pertahanan yang lebih kuat. Artinya, Anda akan melihat pesawat pengebom seperti ini dikerahkan jauh lebih sering," tegas Hegseth.
Meski memberikan fasilitas dan pangkalan, Inggris sendiri tampaknya masih menjaga jarak. Hingga saat ini, London memilih untuk tidak ikut serta dalam serangan langsung ke target di darat.
Jet tempur RAF yang diterbangkan sejauh ini hanya bertugas menjatuhkan rudal dan drone Iran yang mengancam sekutu di kawasan. Itu saja. Garis antara dukungan logistik dan keterlibatan tempur langsung sengaja dijaga agar tetap tegas setidaknya untuk saat ini.
Suara gemuruh B-1 Lancer di Fairford mungkin akan jadi pemandangan yang lebih biasa dalam beberapa minggu ke depan. Ia adalah simbol nyata dari ketegangan yang belum juga mereda.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
TPA Muara Fajar Pekanbaru Bakal Disulap Jadi Pembangkit Listrik 3 MW
Gubernur DKI Buka Festival Bedug, 16 Grup Finalis Ramaikan Takbiran di Bundaran HI
Menkeu Tahan Insentif Baru Kendaraan Listrik, Pertimbangkan Dampak Defisit Anggaran
Planetarium Jakarta Siapkan Tayangan Tematik dan Sistem Tiket Baru Jelang Lebaran