Namun begitu, di sisi lain, keraguan itu nyata adanya. Sejumlah tokoh memang mempertanyakan langkah ini. Ambil contoh Dino Patti Djalal, mantan diplomat senior. Ia secara terbuka meminta Prabowo mengurungkan niat untuk terbang ke Teheran dengan maksud menjadi penengah.
Argumen Dino sederhana namun tajam. Bagaimana mungkin, katanya, Presiden AS Donald Trump yang dianggap sebagai pihak penyerang akan mau datang ke Teheran hanya untuk berunding? “Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi,” kata Dino dengan tegas.
Jadi, di tengah keyakinan dari internal partai pemerintah dan skeptisisme dari pengamat luar, wacana tentang peran mediator Indonesia dalam konflik Timur Tengah ini masih terus bergulir. Prabowo sendiri tampaknya belum memberikan sinyal jelas langkah konkret selanjutnya. Yang pasti, pernyataan Bahlil ini semakin memanaskan diskusi publik tentang sejauh mana diplomasi Indonesia bisa bermain di panggung global yang rumit ini.
Artikel Terkait
HNW: Ramadan Momentum Perkuat Iman, Ilmu, dan Amal untuk Keunggulan Umat
Kata Oma dan NBJ Sukses Gelar Ngabuburit dengan Nyanyi Bareng di Jakarta
Yusril: Rehabilitasi Delpedro Sudah Sah Lewat Putusan Bebas, Tak Perlu Keputusan Presiden
Pengendara Motor Luka Berat Usai Terperosok Lubang Tersamar Genangan di Cibinong