Untuk pembiayaan multiguna, kontribusinya sekitar 22%. Sementara itu, pembiayaan syariah masih terus dikembangkan dan menyumbang 3,1% dari total portofolio.
Lalu, bagaimana dengan profitabilitas? Laba bersih perusahaan menyentuh Rp1,581 triliun, tumbuh sekitar 1%. Mungkin tidak spektakuler, tapi yang patut dicatat adalah kemampuan mereka menjaga kualitas aset. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) mereka jauh lebih baik ketimbang rata-rata industri.
Per Desember 2025, NPF bruto BFI cuma 1,39%, sementara netonya 0,22%. Bandingkan dengan angka dari OJK yang menunjukkan rata-rata industri di 2,51% (bruto) dan 0,77% (neto). Beberapa rasio kunci lain juga terlihat sehat: ROA 7,9%, ROE 14,8%, dan gearing ratio 1,3 kali.
Di tengah semua upaya menjaga kinerja, mereka tak lupa pada pemegang saham. Sepanjang 2025, dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2024 mencapai Rp902 miliar. Belum lagi dividen interim untuk tahun buku 2025, sebesar Rp35 per saham atau sekitar Rp520 miliar, yang dibagikan pada 18 Desember lalu.
Ke depan, manajemen yakin fondasi yang sudah dibangun stabilitas kinerja dan pengelolaan risiko yang ketat akan menjadi modal berharga untuk melanjutkan pertumbuhan. Tantangan 2025 berhasil dilalui, dan sekarang mereka bersiap untuk babak berikutnya.
Artikel Terkait
Herdman Hadapi Kekosongan Skuad, Buka Peluang Pemain Muda di FIFA Series
Serangan Udara Guncang Teheran, Iran Balas ke Tel Aviv
Sinar Mas Wakafkan 2.000 Mushaf Alquran ke Dewan Masjid Indonesia
Polisi Ungkap Modus Baru Penipuan via Stiker QR Code di Jaksel