“Sepemahaman saya, kapasitas pencadangan kita memang sangat bergantung pada kemampuan dana dan fasilitas untuk menyimpan. Jadi pernyataan tersebut tidak bisa dimaknai secara sederhana seolah cadangan BBM kita akan habis dalam waktu tertentu,”
jelasnya lagi, berusaha menenangkan.
Sebagai mitra kerja Pertamina, Komisi VI menilai langkah komunikasi publik yang efektif dari perusahaan pelat merah itu sekarang jadi hal yang krusial. Mereka harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa pasokan tetap aman, meski tantangan dari luar negeri sedang meningkat. Komunikasi yang buruk, menurut Gus Rivqy, bisa memicu masalah sosial yang lebih runyam.
“Saya berharap Pertamina juga ikut memberi penjelasan kepada masyarakat agar kepanikan ini tidak berkembang dan tidak menimbulkan konflik horizontal yang justru merugikan masyarakat luas,”
pungkasnya.
Intinya, situasi ini lebih merupakan ujian komunikasi. Ada jeda antara penjelasan teknis pemerintah dengan pemahaman publik di lapangan. Dan jeda itulah yang memicu antrean panjang tadi.
Artikel Terkait
Tiga Pasukan Perdamaian PBB Terluka dalam Serangan ke Pangkalan UNIFIL di Lebanon Selatan
Richard Lee Ditahan Polisi Usai Bolos Pemeriksaan dan Live TikTok
IHSG Anjlok 7,89%, Kapitalisasi Pasar Tergerus Rp1.160 Triliun
Napoli Kalahkan Torino 2-1, Kokoh di Posisi Tiga Klasemen