Bahkan, dia mengaku sudah punya usulan figur pemimpin baru untuk Iran. Tapi, soal nama? Trump menolak menyebutkannya. Ini bukan kali pertama dia bicara soal campur tangan dalam suksesi kepemimpinan di Teheran. Sebelumnya, usai serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan memantik konflik sejak Sabtu lalu, Trump menyatakan dirinya "harus terlibat" dalam penunjukan pemimpin Iran berikutnya.
Latar belakang pernyataan panas ini adalah situasi yang memang sedang mencekam. Laporan-laporan menyebut serangan besar-besaran terjadi di Teheran pada Jumat itu. Israel mengklaim menyerang "infrastruktur rezim" Iran sebagai bagian dari "fase baru" perang yang digalang bersama AS.
Namun begitu, pihak Iran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Sehari sebelumnya, tepatnya Kamis (5/3), Menlu Abbas Araghchi sudah memberi sinyal keras dari Teheran. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, dia dengan tegas membantah anggapan bahwa Iran takut menghadapi invasi darat.
Pesan Araghchi singkat tapi jelas: Iran siap dan percaya diri mempertahankan kedaulatannya. Sebuah peringatan yang langsung dijawab Trump dengan nada yang justru lebih merendahkan.
Artikel Terkait
Indonesia Tangguhkan Pembahasan Dewan Perdamaian, Fokus ke Keamanan WNI di Timur Tengah
Pertahanan Udara UEA Gagalkan 9 Rudal Balistik dan 109 Drone dari Iran
BFI Finance Catat Pendapatan Rp6,7 Triliun di Tengah Tantangan Industri 2025
Trump Tuntut Penyerahan Tanpa Syarat dari Iran di Tengah Eskalasi Konflik