Namun begitu, menurut Cooper, intensitas serangan balasan Iran itu sudah jauh berkurang. Dia menyebut serangan rudal balistik Iran anjlok hingga 90 persen sejak hari pertama konflik. Sementara untuk serangan drone, penurunannya mencapai 83 persen. Angka-angka itu, jika akurat, menunjukkan tekanan yang signifikan.
Di sisi lain, misi AS rupanya lebih dari sekadar pertahanan. Operasi yang dijuluki 'Epic Fury' ini bertujuan menghancurkan kemampuan rudal balistik dan angkatan laut Iran secara menyeluruh. Targetnya bukan hanya rudal yang sudah siap diluncurkan, tapi juga pabrik-pabrik yang memproduksinya.
“Saat kita beralih ke fase berikutnya,” jelas Cooper, “kita akan secara sistematis membongkar kemampuan produksi rudal Iran untuk masa depan.”
Pernyataan itu jelas mengisyaratkan eskalasi. Fokus operasi sepertinya bergeser dari sekadar menangkis serangan menjadi melumpuhkan industri pertahanan Iran secara permanen. Bagaimana Iran akan merespons langkah ini? Itu masih jadi tanda tanya besar. Yang pasti, situasi di kawasan tetap mencekam, dan pernyataan Cooper tadi hanya menambah gambaran betapa sengit konflik yang sedang berlangsung.
Artikel Terkait
Inisiatif Perdamaian AS-Iran Prabowo Dapat Dukungan Negara-negara Islam
Polda Aceh Imbau Warga Tenang, Pastikan Stok BBM Aman
Britney Spears Ditangkap dengan Tuduhan Mengemudi di Bawah Pengaruh Alkohol dan Obat
Serangan Militer Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Konflik Teluk Picu Krisis Global