Nah, di sinilah masalahnya. Ambisi Amerika di kawasan itu justru sering kali bikin khawatir sekutunya sendiri. Ambisi itu dinilai mengganggu, bahkan mengancam, kepentingan ekonomi negara seperti Inggris dan Prancis.
"Ambisi dan kebijakan AS di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia makin hari makin mengkhawatirkan kepentingan negara-negara Eropa terutama Inggris dan Prancis," ungkap Fredy.
Alasannya sederhana: kontrak-kontrak konsesi minyak yang menggiurkan. Selama ini, kontrak-kontrak itu dikuasai oleh Inggris dan Prancis. Keterikatan mereka dalam persekutuan dengan AS justru berpotensi membuat mereka kehilangan sumber daya vital tersebut.
Maka, wajar saja jika sikap Inggris mulai berubah. Lama-kelamaan, beban untuk selalu mengikuti kemauan Washington terasa memberatkan. Kepentingan nasional mereka sendiri terancam.
"Tidak terlalu mengherankan kalau pihak Inggris dalam hal ini tidak lagi sepenuhnya mengikuti semua keinginan dan ambisi di Timur Tengah dan Teluk Persia," imbuh Fredy.
Jadi, keluhan Trump itu mungkin lebih dari sekadar nostalgia. Ia adalah gema dari sebuah realitas yang sedang berubah: sekutu punya jalannya sendiri.
Artikel Terkait
DPR Desak Perlindungan Khusus untuk Ribuan PMI di Timur Tengah yang Memanas
Mulan Jameela Gelar Bukber dan Santunan Yatim Bersama Artis Senior
KPK Bantah Gugatan Praperadilan Yaqut, Sebut Dalil di Luar Kewenangan
Menteri Luar Negeri Iran Sebut Trump Pengkhianat Usai Serangan AS-Israel Guncang Negosiasi Nuklir