Menteri Luar Negeri Iran Sebut Trump Pengkhianat Usai Serangan AS-Israel Guncang Negosiasi Nuklir

- Kamis, 05 Maret 2026 | 06:45 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Sebut Trump Pengkhianat Usai Serangan AS-Israel Guncang Negosiasi Nuklir

Dari Teheran, suara keras terdengar menyasar Presiden Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak ragu menyebut Donald Trump sebagai pengkhianat. Bukan cuma terhadap negosiasi yang sedang berjalan, tapi juga terhadap rakyat Amerika sendiri.

Menurut Araghchi, agresi tanpa provokasi yang dilancarkan AS adalah bentuk pengkhianatan itu. Pernyataannya dia sampaikan lewat platform media sosial X, pada Rabu lalu.

“Ketika negosiasi nuklir yang kompleks diperlakukan seperti transaksi properti, dan ketika kebohongan besar mengaburkan kenyataan, harapan yang tidak realistis tidak akan pernah terpenuhi. Hasilnya? Mengebom meja negosiasi karena dendam,”
“Trump mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya,”

Begitu kutipan diplomat senior itu, seperti dilaporkan Press TV, Kamis 5 Maret 2026.

Sebenarnya, situasi sempat menjanjikan. Iran dan AS terlibat dalam negosiasi tidak langsung soal program nuklir, dengan Oman sebagai mediator. Bahkan, sehari sebelum serangan terjadi, tepatnya Jumat 27 Februari, para diplomat Oman di Jenewa menyebut kesepakatan komprehensif sudah sangat dekat. Harapan itu pupus dalam sekejap.

Sabtu pagi, 28 Februari 2026, serangan gabungan Israel dan AS mengguncang Iran. Rudal-rudal menghantam target strategis, menewaskan sejumlah pejabat tinggi. Korban paling mengejutkan adalah Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan itu.

Lalu, apa yang memicu serangan mendadak ini? Sebelumnya, utusan khusus Trump untuk Asia Barat, Steve Witkoff, yang juga kepala tim negosiasi AS, menyebarkan narasi bahwa Iran-lah yang merusak proses perundingan. Klaim ini, ternyata, dibantah keras.

Seorang diplomat yang mengetahui detil negosiasi membongkar cerita sebenarnya. “Saya dapat menyatakan secara kategoris bahwa ini tidak akurat,” katanya, merujuk pada pernyataan Witkoff.

Diplomat dari kawasan Teluk Persia itu, yang berbicara dengan syarat anonim, mengungkapkan bahwa delegasi Iran justru telah memberi penjelasan kepada Witkoff. Mereka menyatakan bahwa pengayaan uranium yang dilakukan Teheran adalah konsekuensi langsung dari keputusan Trump menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 era Obama. Intinya, Iran terbuka untuk kesepakatan, tapi yang adil dan komprehensif.

Namun begitu, serangan tetap terjadi. Puluhan kota di Iran jadi sasaran. Respons Iran pun tak tanggung-tanggung. Balasan datang cepat dan keras: rentetan rudal dan drone diluncurkan ke wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkasan AS di kawasan itu.

Bagi pejabat Iran, aksi balasan ini murni pembelaan diri yang sah. Mereka bersandar pada Pasal 51 Piagam PBB, yang memberikan hak legal bagi suatu negara untuk membela diri dari tindakan agresi. Situasinya kini berbalik. Meja perundingan yang sempat hangat, kini digantikan oleh meja perang yang mendingin oleh eskalasi. Dan harapan akan kesepakatan, entah ke mana.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar