Konsep Taman Numerasi di Jakarta Barat Pikat Perhatian Ahli Pendidikan Jepang

- Kamis, 26 Februari 2026 | 21:30 WIB
Konsep Taman Numerasi di Jakarta Barat Pikat Perhatian Ahli Pendidikan Jepang

Jakarta Inovasi pendidikan dari Indonesia lagi-lagi mencuri perhatian. Kali ini, konsep Taman Numerasi yang dikembangkan di sejumlah sekolah dasar dalam negeri berhasil memikat para ahli dari Jepang. Mereka melihat ada sesuatu yang segar di sini, sebuah pendekatan yang meski berbeda, punya semangat yang sama: membuat belajar matematika jadi menyenangkan bagi anak-anak.

Perhatian itu tak cuma di atas kertas. Buktinya, Profesor Sakai Chihiro dari Universitas Hokkaido rela terbang jauh-jauh untuk melihat langsung. Ia menghabiskan waktu di SDN 04 Meruya Selatan, Jakarta Barat, berinteraksi dengan guru dan murid, menyaksikan bagaimana angka-angka dan rumitnya matematika diubah jadi permainan dan proyek yang mengasyikkan.

Di sekolah itu, ada sebuah ruang belajar terbuka bernama INTAN, singkatan dari Inovasi Taman Numerasi. Tempat ini bukan sekadar halaman biasa. Di sini, konsep matematika disambungkan dengan keseharian lewat media yang konkret. Anak-anak bisa belajar tentang geometri dari bentuk taman, atau memahami pecahan lewat kegiatan memasak sederhana. Intinya, numerasi dihadirkan sebagai sesuatu yang hidup dan relevan.

Menurut Tri Susilawati, Kepala SDN 04 Meruya Selatan, inovasi ini lahir dari satu tekad sederhana.

"Kami ingin mengubah pandangan bahwa numerasi itu menyeramkan. Lewat INTAN, siswa belajar dengan cara yang bermakna dan, yang penting, menyenangkan," ujarnya.

Komitmen itu rupanya terasa. Guru di sekolah tersebut, Komala Sari, melihat perubahan pada siswanya. Mereka jadi lebih aktif dan percaya diri. "Media pembelajarannya kan dekat dengan kehidupan mereka. Akhirnya mereka paham, oh ternyata numerasi ada di sekeliling kita. Mereka belajar sambil bermain, jadi tantangannya malah jadi menarik," jelas Komala.

Di sisi lain, ada perbedaan menarik dengan cara Jepang. Kalau di Negeri Sakura, pembelajaran numerasi banyak memanfaatkan lingkungan sekitar secara kontekstual dan mendorong eksperimen mandiri, Taman Numerasi ala Indonesia ini hadir lebih terstruktur. Ada ruang fisik khusus yang memang dirancang eksplisit untuk menguatkan kemampuan berhitung, terintegrasi dengan pendekatan STEM.

Guru lainnya, Rindy Afrizal, punya pandangan. Baginya, INTAN adalah bukti nyata bahwa transformasi pendidikan bisa dimulai dari tingkat sekolah. "Ketika guru diberi ruang untuk berkreasi, dampaknya langsung terlihat. Siswa tumbuh jadi pembelajar yang tidak pasif, tapi aktif dan bisa beradaptasi," katanya.

Inisiatif seperti ini sejalan dengan gerakan besar Kementerian Pendidikan. Upaya mendorong Gerakan Numerasi Nasional sebagai bagian dari transformasi pembelajaran mendapat bentuk nyatanya di tempat seperti INTAN. Di sini, guru berperan sebagai fasilitator yang menyesuaikan metode dengan kebutuhan masing-masing anak.

Ketertarikan Jepang terhadap praktik baik ini jelas sebuah angin segar. Ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan kita punya daya saing, bahkan di mata negara yang sistem pendidikannya sudah maju. Harapannya, cerita dari Meruya Selatan ini bisa menginspirasi lebih banyak sekolah lagi untuk menciptakan ruang belajar yang lebih hidup, kontekstual, dan siap menjawab tantangan zaman.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini