"Pusing bikin sendiri, sehingga provinsi punya data sendiri, kabupaten punya data sendiri," lanjutnya. "Akhirnya yang terjadi adalah ego sektoral. Kementerian Sosial punya data sendiri, sombong ini, gaya-gayaan banget."
Gambaran yang dilukiskannya terasa nyata sekaligus menggelikan. Ia mendeskripsikan sebuah siklus yang berputar di tempat.
"Diatur-atur sendiri, habis itu menyalurkan bansos, disalurkan sendiri, dievaluasi sendiri, akhirnya tepuk tangan sendiri," jelas Gus Ipul.
"Orang lain mau tepuk tangan terserah, nggak tepuk tangan terserah, yang penting urusan kita beres. Yang lain juga sama melakukan hal yang sama. Data saya ini, yang saya salurkan ya ini. Habis itu diukur sendiri, tepuk tangan sendiri."
Poinnya jelas. Kerja yang seharusnya kolaboratif malah berubah jadi perlombaan klaim keberhasilan individu. Di sinilah DTSEN diharapkan jadi solusi pemersatu, mengakhiri kekacauan data yang sudah berlangsung lama.
Artikel Terkait
Bangka Belitung Pastikan Ternak Sehat dan Stok Aman Jelang Idulfitri
Buku Rasa Bhayangkara Nusantara Diserahkan ke Kedubes Jepang, Perkuat Diplomasi Budaya
Mendag Andalkan Sistem Pantau Harian untuk Jaga Stok dan Harga Jelang Lebaran
Pemuda Dibawa Warga ke Polres Serang Diduga Perkosa Remaja 15 Tahun