Ia menekankan, keberhasilan ini buah dari kolaborasi yang solid antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan semua pemangku kepentingan.
"Sinergi pembangunan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi di tengah dinamika cuaca, harga pakan, hingga fluktuasi permintaan pasar," ujar Edi.
Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen terus mendorong peningkatan kapasitas, baik di sektor tangkap maupun budidaya. Caranya lewat penguatan sarana prasarana, pendampingan teknis, dan mengoptimalkan potensi tambak serta perairan laut.
Kontribusi hampir 34% ini juga menempatkan Indramayu pada posisi strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya dari sisi protein hewani. Stabilitas produksi daerah jadi kunci menjaga ketersediaan pasokan ikan.
Data 2025 juga memperlihatkan sebuah transformasi. Kalau dulu sektor tangkap jadi penopang utama, kini budidaya mulai dominan secara volume. Pergeseran ini penting untuk keberlanjutan, mengingat sumber daya laut punya batas eksploitasi.
Tantangan ke depan tentu ada. Mulai dari efisiensi biaya produksi, adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga meningkatkan daya saing di pasar. Namun, optimisme tetap tinggi.
"Besarnya kontribusi Indramayu terhadap Jawa Barat sekaligus menegaskan sektor perikanan masih menjadi salah satu motor ekonomi utama daerah. Selama produktivitas terjaga dan kolaborasi terus diperkuat, Indramayu diproyeksikan tetap menjadi episentrum produksi ikan di provinsi ini," pungkas Edi.
Artikel Terkait
KPK Beberkan Dugaan Korupsi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Rp19 Miliar Disebar ke Keluarga
Kapolri Silaturahmi Ramadan di Jabar, Serahkan Bantuan Rutilahu dan Santunan
Remaja Tewas Tertembak Polisi Usai Aksi Perang-perangan di Makassar
ASDP Hentikan Sementara Layanan Penyeberangan ke Bali untuk Hormati Nyepi