Menurut Suci, situasi ini menunjukkan bahwa bantuan yang nyata dan berkelanjutan sangat dibutuhkan. Air bersih bukan sekadar cairan, tapi penopang hidup yang membuat warga bisa hidup layak dan nyaman.
Solusi yang diharapkan adalah pembuatan sumur dalam. Sekitar 40-50 meter kedalamannya, yang bisa menyediakan air tak peduli musim hujan atau kemarau. Dengan sumur bor beserta mesinnya, kekhawatiran warga dan santri akan kelangkaan air mudah-mudahan bisa berkurang. Alhasil, mereka bisa lebih fokus beraktivitas untuk memperbaiki kehidupan.
Harapan dan Rencana Ke Depan
Ustaz Ade punya harapan besar. Ia ingin pesantren dan warga sekitar segera memiliki sumur yang dalam. Nantinya, sumur itu akan dikelola oleh pesantren dan bisa diakses warga kapan saja.
"Bayangkan, 24 jam. Tak perlu lagi ke rorah yang jauh itu. Saya sangat bersyukur jika rencana ini terwujud, karena sudah ditunggu-tunggu lama oleh masyarakat," tuturnya penuh harap.
Pendampingan menjadi kunci. Suci menegaskan, Yayasan Desa Hijau tak hanya membantu pembuatan, tapi juga akan mendampingi warga dalam mengelola sumur dan mesinnya. Tujuannya agar semuanya berfungsi optimal dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, semua berharap kondisi memprihatinkan ini cepat berubah. Warga dan santri di Kadujajar sudah terlalu lama hidup dalam kekurangan. Bantuan siapa pun sangat berarti untuk mengalirkan kesejukan air bersih, sekaligus harapan baru, ke desa mereka.
Artikel Terkait
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Senilai Rp183 Miliar di Tanjung Priok
Polda Metro Jaya Gunakan Peci, Jilbab, dan Tim Shalawat untuk Amankan Aksi di Ramadan
Indramayu Kokoh Sebagai Lumbung Ikan Jawa Barat, Kontribusi Capai 34%
Kapolda Banten Tinjau Persiapan Mudik Roda Dua di Pelabuhan Ciwandan