Selasa pagi di Jakarta, rupiah menunjukkan sedikit napas lega. Mata uang kita membuka perdagangan dengan posisi menguat, meski tipis. Dari level penutupan kemarin di Rp16.868, kini ia bergerak ke Rp16.861 per dolar AS. Kenaikan 7 poin itu setara dengan 0,04 persen. Sebuah awal yang cukup stabil di tengah berbagai gejolak yang masih membayangi pasar global.
Namun begitu, optimisme ini perlu dilihat dengan hati-hati. Sentimen pasar masih rentan, terutama dengan memanasnya konflik di Timur Tengah. Perang yang berkecamuk di sana dinilai punya potensi besar untuk memukul perekonomian Indonesia. Imbasnya bisa langsung terasa pada pergerakan nilai tukar kita ke depan.
Di sisi lain, otoritas monitor tampaknya berusaha menenangkan situasi. Bank Indonesia sendiri telah menyatakan bahwa mereka akan memastikan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi yang ada. Mereka sepertinya ingin menegaskan bahwa mereka punya senjata untuk menjaga stabilitas.
Jadi, pagi ini kita sambut penguatan rupiah, sekecil apapun itu. Tapi mata harus tetap terbuka lebar. Pasar keuangan kita masih dalam mode waspada, menunggu perkembangan selanjutnya dari panggung dunia yang tak pernah benar-benar tenang.
Artikel Terkait
Polytron Konversi Kilometer Motor Listrik Jadi Donasi untuk PAUD di NTT
Pembangunan Sabo Dam di Marapi Dimulai untuk Antisipasi Lahar Dingin
Iran Serang Kapal Tanker Sekutu AS di Selat Hormuz, Ketegangan Global Meningkat
Pemprov NTB Pastikan Seluruh PMI dan Jemaah Umrah di Timur Tengah dalam Kondisi Aman