Bill Clinton bersikukuh. Mantan Presiden AS itu, dalam kesaksian di bawah sumpah yang baru dirilis, menyatakan dirinya sama sekali tak tahu soal kejahatan seksual yang dilakukan Jeffrey Epstein. "Tidak ada yang saya lihat saat berada di dekatnya yang membuat saya menyadari dia melakukan perdagangan perempuan," tegas Clinton dalam video deposisi berdurasi lebih dari empat jam itu. Proses ini digelar pekan lalu di rumahnya di Chappaqua, New York, dan dokumennya dibuka untuk publik oleh komite kongres pada Senin lalu.
Di sisi lain, Hillary Clinton, istri Bill yang juga mantan Menteri Luar Negeri, punya pernyataan yang lebih keras. Ia dengan gamblang menyangkal pernah mengenal Epstein. Tak hanya itu, ia justru mendesak panel penyelidik untuk memanggil Donald Trump. Menurutnya, Trump-lah yang seharusnya diperiksa di bawah sumpah terkait hubungannya dengan mendiang pemodal itu.
Nama Trump memang muncul dalam kesaksian Bill. Clinton mengaku pernah berbincang dengan Trump di lapangan golf sekitar tahun 2002. "Presiden (Trump) tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya yang membuat saya berpikir dia terlibat dalam sesuatu yang tidak pantas terkait Epstein juga," ujarnya. Pernyataan ini menarik, mengingat keduanya pernah berteman dekat dengan sosok yang sama.
Meski begitu, Bill Clinton mengakui pernah beberapa kali menggunakan pesawat pribadi Epstein di awal 2000-an. Tujuannya, katanya, untuk urusan kemanusiaan melalui yayasannya. Saat ditanya dengan lugas apakah ia pernah melakukan kontak seksual dengan perempuan muda yang dikenalkan Epstein atau Ghislaine Maxwell, jawabannya singkat dan tegas: "Tidak."
Suasana deposisi Hillary ternyata tak semulus suaminya. Ruang sidang sempat memanas. Sebuah foto yang diambil anggota parlemen bocor ke publik, dan itu memicu kemarahan Hillary. Ia langsung mengancam akan menghentikan proses.
"Saya selesai dengan ini. Jika kalian melakukan hal itu, saya selesai. Kalian bisa menganggap saya menghina pengadilan dari sekarang sampai kapan pun," kata Hillary sambil memukul meja. Ancaman itu rupanya cukup untuk meredakan situasi dan deposisi bisa dilanjutkan.
Penyelidikan ini digelar oleh Komite Pengawasan DPR yang dikuasai Partai Republik. Fokusnya adalah pada jaringan Epstein dan Maxwell. Namun, nuansa politiknya terasa kental. Pihak Demokrat menuding ini cuma taktik untuk menyerang lawan politik Trump menjelang pemilu, bukan murni pencarian fakta. Memang, baik Clinton maupun Trump kerap disebut dalam berkas-berkas Epstein, meski tak pernah ada dakwaan resmi terhadap mereka.
Epstein sendiri ditemukan meninggal di sel tahanannya di New York pada 2019. Kematiannya yang disebut sebagai bunuh diri itu menghentikan proses pengadilan atas kasus perdagangan seks yang menjeratnya. Tapi, gelombang pertanyaan dan kontroversi yang ditinggalkannya, seperti yang terlihat dalam deposisi keluarga Clinton ini, masih terus bergulir hingga sekarang.
Artikel Terkait
Karnaval Paskah Semarakkan Semarang, Kibarkan Bendera Raksasa dan Semangat Kebersamaan
Pertamina Patra Niaga Raih Empat Penghargaan Indonesia WOW Brand 2026
Presiden Prabowo Tandatangani Perpres Pengelolaan Kesehatan Terpadu
Kapolsek Cileungsi Menyamar Jadi Satpam dan Ustaz, 1.000 Butir Obat Keras Disita