Di sisi lain, situasi di lapangan semakin rumit. Ladang-ladang minyak terbakar di berbagai titik, sementara Iran disebut semakin memperkuat cengkeramannya atas Selat Hormuz. Itu adalah jalur vital untuk pasokan energi global. Potensi konflik, menurutnya, membesar dari hari ke hari.
Namun begitu, ada satu skenario yang dinilainya sebagai pemantik terbesar. "PD III ini dapat semakin cepat terwujud, seandainya terjadi ledakan tidak sengaja di salah satu instalasi rahasia," ungkap Rezasyah.
"Itu bisa memicu serangan balik secara total," tambahnya.
Operasi skala besar AS dan Israel itu sendiri dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari. Sasaran mereka beragam: fasilitas komando Garda Revolusi Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, lapangan terbang militer, hingga sistem pertahanan udara.
Dampaknya pun langsung terasa. Serangan itu disebut menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk pemimpin tertingginya, Ali Khamenei.
Gema ledakan tak hanya terdengar di Iran. Menurut sejumlah laporan, rentetan ledakan juga mengguncang beberapa negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS pada hari yang sama. Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Kuwait semuanya melaporkan insiden itu, menandakan betapa luasnya gelombang kejutan dari serangan ini.
Kini, semua mata tertuju ke wilayah itu. Menunggu langkah berikutnya, sambil berharap skenario terburuk itu tidak benar-benar terjadi.
Artikel Terkait
Tanah Bergerak di Bogor Rusak Tiga Rumah, 15 Jiwa Terdampak
Ruas Tol Bawen-Ambarawa Ditargetkan Operasional Saat Mudik Lebaran 2026
DPR Dukung Upaya Prabowo Jadi Mediator AS-Israel-Iran
Wamen Bima Arya Lepas Gelombang II Praja IPDN di Aceh Tamiang, Gelombang III Akan Menyusul