Suara penolakan terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) kian keras terdengar. Pemicunya jelas: serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memicu ketegangan mencekam di Timur Tengah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini secara resmi mendesak pemerintah untuk segera keluar dari forum bentukan Donald Trump itu.
Desakan ini sebenarnya punya teman seiring. Jauh sebelum konflik memanas, Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Gomar Gultom, sudah mempertanyakan langkah Indonesia bergabung dengan BoP.
Bagi Gultom, keberadaan BoP terasa seperti upaya untuk melemahkan PBB, padahal Indonesia sedang mendapat giliran memimpin Dewan Keamanan. Dia tak ragu menyebut langkah Presiden RI masuk ke dalamnya sebagai sebuah "blunder".
Yang paling krusial, menurutnya, adalah keberpihakan yang telanjang. Bagaimana mungkin ada perdamaian yang adil untuk Gaza, sementara Palestina tak dilibatkan dan Israel justru duduk di dalamnya?
Artikel Terkait
Wall Street Bangkit dari Terjun Bebas Usai Serangan AS ke Iran, Sektor Teknologi dan Energi Jadi Penyelamat
Pizza Pentagon: Indikator Tak Resmi Persiapan Operasi Militer AS Kembali Dibicarakan
DPR Nilai Kehadiran Indonesia di Board of Peace Tetap Strategis Meski Ada Desakan Mundur
Real Madrid Tumbang dari Getafe, Puncak Klasemen Semakin Jauh dari Barcelona