Pasar IPO Asia Tenggara Diproyeksi Bangkit di Tahun 2026
Pasar Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami kebangkitan signifikan pada tahun 2026. Proyeksi optimis ini didasari oleh tren pemulihan yang mulai terlihat sepanjang tahun 2025, terutama di sektor-sektor kunci seperti konsumen, real estat, dan teknologi.
Pemulihan Pasar IPO dan Peran Strategis Singapura
Pemulihan pasar IPO ditandai dengan tren pencatatan saham yang volumenya mungkin lebih sedikit, namun memiliki ukuran yang lebih besar dan kualitas yang lebih tinggi. Dalam perkembangan ini, Singapura semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi utama untuk pencatatan saham perdana dengan kapitalisasi pasar yang besar, menarik minat emiten dari berbagai negara.
Analisis Kondisi Pasar dan Strategi Emiten
Meskipun terdapat peningkatan minat terhadap pencatatan saham berukuran besar, sentimen pasar secara keseluruhan masih ditandai dengan kehati-hatian. Banyak calon emiten yang memilih waktu yang tepat untuk masuk pasar guna mendapatkan valuasi yang optimal. Hal ini menyebabkan kecenderungan ukuran penawaran yang lebih kecil namun bersifat strategis.
Peta Persaingan Negara-Negara Asia Tenggara
Hingga akhir 2025, Malaysia dan Indonesia tercatat memimpin pertumbuhan pasar IPO dari sisi volume dan nilai transaksi. Sementara itu, Singapura unggul dalam penghimpunan dana untuk IPO dengan skala yang sangat besar. Vietnam juga menunjukkan perkembangan yang stabil, didukung oleh upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat ekosistem pasar modalnya.
Di Thailand, aktivitas IPO tetap berjalan meskipun negara tersebut menghadapi berbagai tekanan, termasuk ketidakpastian politik, tingkat utang rumah tangga yang tinggi, dan volatilitas pasar global. Keberhasilan IPO Mr DIY Holding (Thailand) Public Company Limited yang berhasil menghimpun dana sekitar USD 174 juta menjadi bukti ketahanan pasar.
Tren Sektoral yang Mendominasi Pasar IPO
Dari perspektif sektoral, industri real estate menjadi yang paling dominan dengan menyumbang sekitar 33 persen dari total dana yang dihimpun melalui IPO di kawasan Asia Tenggara. Sektor ini diikuti secara berturut-turut oleh industri energi dan sumber daya alam, serta sektor keuangan.
Selain itu, industri yang terkait dengan mobilitas dan infrastruktur energi mulai menunjukkan momentum pertumbuhan yang baru. Momentum ini sejalan dengan tren reshoring atau relokasi rantai pasok global. Di sisi lain, IPO dari sektor teknologi dan kesehatan terus menjadi primadona yang menarik minat investor, didorong oleh partisipasi aktif dari private equity dan investor institusional.
Ketangguhan Pasar dan Fondasi Menuju 2026
Di tengah berbagai tantangan geopolitik dan tekanan ekonomi makro, pasar IPO Asia Tenggara menunjukkan ketangguhan yang patut diperhitungkan. Faktor pendorong ketangguhan ini antara lain adalah reformasi regulasi yang dilakukan oleh berbagai negara, diversifikasi sektor ekonomi yang semakin matang, serta meningkatnya kepercayaan dari investor domestik dan global. Kombinasi faktor-faktor ini membentuk landasan yang kuat bagi prospek cerah pasar IPO pada tahun 2026.
Seiring dengan membaiknya kondisi pasar, para calon emiten terus memantau perkembangan pasar modal secara seksama. Tujuannya adalah untuk menemukan momen yang tepat guna memaksimalkan valuasi perusahaan dan memanfaatkan permintaan likuiditas yang selama ini tertahan. Kondisi ini pada akhirnya akan memungkinkan investor dan pemegang saham untuk membuka nilai (value) yang sebelumnya belum terealisasi.
Artikel Terkait
Trump Naikkan Tarif Global AS Jadi 15% Usai Putusan MA
Kadin Desak Prabowo Batalkan Rencana Impor 105.000 Mobil Pick-up dari India
Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump
OJK Denda Influencer Saham Rp5,35 Miliar, Praktik Goreng Saham Berevolusi