Namun begitu, Bahlil mencoba meyakinkan publik. Cadangan minyak nasional, katanya, masih aman untuk sekitar 20 hari ke depan. Sampai saat ini, belum ada gangguan yang dirasakan di dalam negeri, termasuk untuk BBM subsidi.
"Masih cukup, 20 hari. Sampai hari ini nggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timteng,"
Lonjakan harga minyak dunia belakangan ini memang nyata. Sebelumnya, media internasional seperti BBC Indonesia melaporkan, harga minyak melonjak setelah setidaknya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Serangan-serangan itu disebut-sebut sebagai balasan Iran atas aksi AS dan Israel.
Dua kapal dilaporkan terkena serangan. Satu kapal lainnya nyaris kena, dengan sebuah 'proyektil tak dikenal' yang meledak sangat dekat. Informasi ini datang dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Iran sendiri sudah memberi peringatan keras agar kapal-kapal tidak melintasi selat itu. Padahal, selat sempit itu adalah jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Akibatnya, aktivitas pengiriman internasional nyaris mandek di pintu gerbang Teluk Persia. Banyak analis khawatir. Jika konflik ini berlarut, bukan tidak mungkin harga minyak akan melambung lebih tinggi lagi, dan dampaknya akan menjalar ke mana-mana.
Artikel Terkait
Idul Fitri 2026 Diprediksi Jatuh pada 21 Maret, Libur Panjang hingga Satu Pekan
Lippo Cikarang (LPCK) Capai Target Penjualan Rp1,65 Triliun, Pendapatan Melonjak 133%
MK Hapus Frasa Tidak Langsung dalam Pasal 21 UU Tipikor untuk Cegah Pasal Karet
Dubes Iran di Jakarta Tolak Signifikansi Reza Pahlavi Usai Wafatnya Khamenei