Bagi Marian Mihail, situasi yang dihadapi PSBS Biak saat ini memang tak biasa. Sejak harus berpindah kandang ke Stadion Maguwoharjo di Sleman, tim yang dijuluki Badai Pasifik itu terpaksa menjalani laga-laga kandang tanpa deru suporter. Atmosfernya, menurut sang pelatih kepala yang baru saja menjabat, jadi sangat berbeda.
“Kami ini tim yang unik karena tidak memiliki penonton,” ujar Mihail.
Ia melanjutkan, suara kosong dari tribun benar-benar terasa. “Bermain di stadion sendiri terasa seperti laga persahabatan. Terkadang berhasil, terkadang tidak. Pemain butuh penonton untuk memberi dorongan,” tambahnya. Baginya, kondisi itu membuat setiap pertandingan kandang nyaris serupa dengan sekadar uji coba.
Di sisi lain, tekanan di papan klasifikasi juga tak bisa dianggap remeh. Hingga pekan ke-23 BRI Super League 2025/2026, PSBS masih terperangkap di posisi ke-16. Itu adalah batas terakhir zona aman, atau lebih tepatnya, gerbang menuju degradasi. Mereka hanya mengumpulkan 18 poin dari 23 laga yang sudah dijalani.
Jadi, perjuangan mereka berlapis. Bukan cuma soal taktik atau fisik pemain, tapi juga tentang bertahan dalam keheningan yang tak biasa sebuah ujian mental di tengah ketiadaan sorak-sorai pendukung.
Artikel Terkait
AS dan Israel Tewaskan Ayatollah Khamenei dalam Operasi Militer Besar-besaran
Mantan Diplomat: Veto AS di DK PBB Hambat Resolusi Tegas Soal Serangan ke Iran
Wiranto Kenang Try Sutrisno sebagai Prajurit Sejati dan Teladan Kebangsaan
Pansus 13 DPRD Bandung Perdalam Pembahasan 63 Pasal Raperda Ketertiban Umum